Thursday, 27 September 2012

My Partner by Retni SB


Setiap orang pasti pernah mendengar petuah "kehidupan itu bagaikan roda. Kadang berada diatas, namun pasti akan datang masanya untuk berada di bawah." Itulah yang dialami Tita. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara tiba-tiba ia harus memikul tanggung jawab besar. Membiayai keluarga sementara ia sendiri belum punya pekerjaan karena baru lulus kuliah.

Papa tiba-tiba menjadi tersangka kasus korupsi dan saat ini harus mendekam selama enam bulan di penjara menanggung perbuatan yang tak dilakukannya. Mama yang depresi melihat kondisi Papa terpaksa harus dirawat di panti perawatan. Nena, sang adik, mogok sekolah karena malu menerima ejekan sebagai anak seorang koruptor. Pada siapa Tita bisa bersandar? Om Anto, adik Papa, sudah mendapat surat peringatan dari kantor karena terlalu sering absen dari pekerjaannya untuk membantu keluarga Tita. Rumah satu-satunya tempat berteduh, harus disita negara guna membayar ganti rugi. Sahabat masa kuliah mendadak amnesia dan tidak mengenalnya lagi. Pacar? hilang tanpa jejak sejak Papa ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

Dengan bantuan Jodik, kenalan Papa sejak lama Tita melewati semuanya. Tapi ternyata Jodik menyimpan maksud dalam tindakannya. Ia menagih balas atas semua bantuannya dalam bentuk yang tak terbayangkan Tita.

^_^   ^_^

Namanya juga metropop. Tentu saja ceritanya dikemas dengan ringan. Tak terkecuali buku ini. Ringan dan tanpa konflik yang terlalu berbelit-belit. Penokohannya pun tak terlalu banyak. Pekerjaan sebagai arsitek yang dilakoni kedua tokoh utama pun tidak lantas membuat buku ini sarat dengan istilah-istilah arsitektur yang asing bagi orang yang awam akan dunia arsitektur.

Jujur saya agak terkejut saat membaca buku ini karena dalam buku ini kontak fisik antara tokoh utama cewek dan cowok cukup minim. Sulit untuk menemukan hal yang seperti itu. Belum lagi karakter tokoh yang ditampilkan, sangat menghormati kedua orangtua dalam porsi yang tidak berlebihan sehingga karakter-karakter tokohnya tidak too good to be true

Kutipan yang saya sukai dalam buku ini yang (juga) jarang saya temui di buku-buku sejenis ini, yaitu :
"Kalau pacar cuma bikin stress, mungkin suami bisa bikin tenang dan aman." (p. 244)

"Aku nggak pengin pacaran. Aku pengin menikah. Supaya lebih leluasa ngapa-ngapain." (p. 55)

Tentang cover, covernya sederhana saja. Ilustrasi cewek berpayung merah. Tapi entah kenapa saya kurang sreg dengan covernya yang seperti menegaskan sosok wanita karirer yang mapan, yang bisa diinterpretasikan sebagai perwujudan dari Tita. Tapi masalahnya Tita 'kan digambarkan sedang kerepotan menghadapi segala cobaan yang datang tak berhenti, agak tidak tepat rasanya bila sosoknya digambarkan sebagai wanita mapan. Ya sudahlah... mungkin interpretasi saya yang berlebihan tongue. Yang pasti saya tidak kapok membaca tulisan-tulisan mbak Retni SB yang lain.

Judul : My Partner
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 288
Kategori : Contemporary Romance
ISBN : 978-979-22-8017-3
Status : pinjem dari OceMei



Sunday, 23 September 2012

Memory and Destiny by Yunisa KD


Oke... Hhhmmm.... Dari mana saya akan mereview buku ini? *nggak bisa narik nafas panjang karena debu vulkanik sedang banyak-banyaknya* Oh iya, sebelum membaca review ini, saya cuma mau mengingatkan kalau review ini panjang dan biasa aja sih isinya...

Lega adalah perasaan pertama yang saya rasakan ketika telah menyelesaikan buku ini. Bukannya tidak menikmati cerita di dalamnya tapi lebih karena akhirnya saya berhasil membaca buku yang kabarnya sempat mengguncang dunia Goodreads Indonesia sehingga seorang reviewer menghapus reviewnya untuk buku ini *lirik yang merasa*

"Bagaimana kalau sebenarnya jodohmu bukan dia? Dan sebenarnya kalian, maksudku, kau dan belahan jiwamu belum dipertemukan oleh Tuhan?"

Pertanyaan singkat itu berhasil membuat galau seorang calon pengantin pria tepat di hari pernikahannya. Pertanyaan yang dilontarkan oleh sang best man, orang yang seharusnya bertugas untuk menenangkan keraguan sang calon pengantin pria itu malah berbalik arah membuat calon pengantin mempertanyakan kembali tindakannya.

Sayang, pernikahan itu tidak pernah terjadi. Kecelakaan hebat menewaskan calon pengantin perempuan dan calon pengantin pria dalam keadaan koma selama berminggu-minggu. Di sudut lain kota Inggris, tepatnya di Kompleks Westminter Abbey, seorang gadis kecil yang sedang menikmati keindahan Westminter Abbey mendapatkan teman barunya. Pria muda nan tampan yang mengenakan tuksedo putih dengan bunga tersemat di dada kirinya. Tanpa diduga si pria begitu setia pada si gadis kecil. Ia bahkan mengikuti si gadis kecil hingga ke Indonesia dan membantunya beradaptasi baik terhadap lingkungan maupun dalam hal pelajarannya. Mereka begitu kompak. Tapi, kata orang, pria itu hanyalah imaginary friends si gadis kecil.

Sekian waktu berselang, pria itu tak pernah muncul kembali dalam hidup si gadis kecil. Gadis kecil itu pun telah menjelma menjadi gadis cantik yang menjadi dambaan para lawan jenisnya. Gadis itu bernama Maroon. Nun jauh di kota London, pria yang mengalami kecelakaan di hari pernikahannya itu kini telah sadar dari koma panjang. Hal pertama yang ditanyakan kepada kedua orangtuanya adalah "Mama, Papa, kalian tahu di mana Maroon?"

Siapa bisa menduga jika sebenarnya mereka saling terhubung? Namun takdir memiliki keputusan sendiri kapan keduanya bertemu meski memakan waktu hingga hitungan tahun. Ketika mereka bertemu, ternyata takdir masih menyimpan kejutan. Ada sosok lain hadir diantara mereka yang percaya ia ditakdirkan untuk bersama dengan salah satu diantara mereka.

Cerita yang menarik bukan?

Ya... ide ceritanya memang menarik. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati di setiap lembarnya. Awalnya saya percaya, sekian banyak reviewer yang berhasil gilang gemilang menemukan hal-hal yang dirasa kurang tepat sehingga saya pasti tak menemukan hal-hal yang kurang tepat ganjil tersebut. Ternyata saya salah besar. Masih ada (sisa-sisa) keganjilan yang bisa saya kutip.

"Gadis kecil itu merasa pria di depannya adalah sosok asli boneka Ken yang menjadi pasangan Barbie, boneka kesayangannya." (p. 13)
Gadis kecil itu baru berumur 10 tahun. Wajar jika ia punya boneka Barbie dan Ken. Namun membayangkan sosok pria dewasa sebagai sosok asli bonekanya perlu diacungi semua jempol (empat jempol tangan dan kaki si gadis kecil, empat jempol tangan dan kaki penulis review ini, empat jempol tangan dan kaki pembaca review ini) buat gadis kecil itu. Luar biasa imajinasinya. Membayangkan sosok yang jauh lebih tua dari usianya sebagai sosok asli bonekanya. TOP MARKOTOP!!! Saya jadi bertanya-tanya mengapa saya sewaktu seumur gadis kecil itu tak mampu membayangkan boneka Ulil yang kakinya warna-warni imut menggemaskan dan banyak itu sebagai seekor Anaconda *mikir serius*

Cerita ini mengambil lokasi di tiga negara dua benua. Inggris, Indonesia, dan Singapura. Yang membingungkan, mengapa Maroon yang besar di London lantas kembali ke Indonesia harus bersusah payah mengikuti pelajaran di sekolah karena bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia sedangkan Maroon tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Jika memang ada rencana kembali ke Indonesia, mengapa sedari awal orangtua Maroon tak membiasakan berbahasa Indonesia dengan Maroon selama di Inggris? Kalau memang orangtua Maroon biasa berbahasa Indonesia dengannya, mengapa sewaktu di Indonesia mereka memasukkan Maroon ke sekolah biasa? Kenapa tidak ke international school yang notabene bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Jadi Maroon tak perlu begitu susahnya berbahasa Indonesia. Contoh dong Cinta Laura. Dia tuh nggak lancar bahasa Indonesia tapi dia sekolah di international school.

"Yah, siapa yang tidak ngeri kalau anaknya melihat seorang pemuda yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, apalagi pemuda itu mengenakan jas putih seperti layaknya jenazah yang disemayamkan di negeri Inggris?" (p. 34)
 Si pria itu 'kan diceritakan di awal mau menghadiri acara pernikahannya sendiri makanya bertuksedo putih. Mengapa konteks jas putih itu malah mengacu ke jenazah bukannya ke calon pengantin? Sedih juga saat membaca kalimat tersebut. Bukankah berarti yang memakai jas putih itu tampak seperti mayat? *menatap pilu ke arah jas putih yang tergantung di dinding*

"Keahlian khusus? Apa ya? Membedah mayat? Hahaha, mana mungkin kutulis seperti itu." (p. 41) Bedah mayat? Masyarakat awam memang mengenal Ilmu Forensik dengan sebutan Bedah Mayat. Seharusnya Maroon yang (katanya) calon dokter itu sudah fasih dengan istilah medis bukan malah membiasakan diri menggunakan bahasa awam. Kan calon dokter. Malu dong kalau nggak terbiasa bicara istilah medis.

"Wiro juga berpikiran sama denganku. Begitu dia kenal kamu, dia teringat dokter Don. Sementara aku, begitu melihat dokter Don, aku teringat kamu! Itu kan berarti there is something about you two.." (p. 52)
Kalau gara-gara satu profesi atau kemiripan yang lain dan langsung ada sesuatu diantara mereka, berarti jodoh itu nggak jauh kemana-mana dong? Hhhhmmmm... curhat dulu ya... Dulu tuh ya saya pernah punya teman yang namanya PUTRALISASI BUNGSU (bener ini nama aslinya) dan dipanggil dengan nama Putra. Sedangkan saya namanya Putri. Berarti??? *langsung mandi kembang tujuh rupa yang airnya diambil dari tujuh aliran sungai* *amit-amit cabang bayi kalau sempat kejadian, soalnya udah nggak berstatus single lagi* *ingat single, jadi ingat kejadian bapak-bapak beberapa hari lalu* *pukpuk si bapak*

One man, one soundtrack adalah salah satu hal yang paling menonjol di buku ini. Donald punya lagu tetap "Sunday Morning"nya Marron 5. Yang terinspirasi dari nama Maroon. Bahkan saking terinspirasinya Donald dengan nama Maroon, hampir semua kemejanya dan warna favoritnya menjadi Maroon. Sementara David, punya lagu kebangsaan "Umbrella"nya Rihana. Semua lagu itu selalu saja berputar-putar di hidup mereka. Apa pun kondisinya lagu ini selalu saja mewarnai perjalanan masing-masing tokohnya. Uuummm... selama saya membaca dan menulis review ini sambil berselang-seling ber-BBM ria, ringtone untuk new message BBM saya yaitu Pasangan Jiwa-nya Kla Project. Setelah dipikir-pikir lirik lagunya sepertinya tepat buat soundtrack saya untuk buku ini. Jadi setiap saya melihat buku ini saya langsung teringat pada lagu Pasangan Jiwa begitu juga sebaliknya. Setuju kan?

 Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang

Tapi masalahnya lagu itu keren dan syahdu banget. Nggak ikhlas rasanya mengasosiasikan lagu sekeren itu dengan buku ini. Walaupun setelah liriknya dilihat-lihat sesuai sih dengan ide dan jalan cerita buku ini. Tapi...

Dengan begitu banyaknya kata "destiny" muncul dibuku ini, saya jadi kepikiran kalau buku ini sebenarnya tidak tepat diberi judul MEMORY and DESTINY tapi lebih tepatnya diberi judul MENGEJAR DESTINY yang jumlah kata destiny-nya... saya nggak ngitung. Males.

Oke, jadi berapa rating untuk buku ini? Satu rating saya berikan untuk covernya yang enak dipandang mata karena berwarna biru dan gambar Westminter Abbey yang berkilauan karena cahaya lampu dengan tidak memandang sosok laki-laki berjas hitam yang tiba-tiba muncul disitu. Merusak pemandangan keindahan Westminter Abbey saja.

Penulis : Yunisa KD
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 halaman
Kategori :Contemporary Romance
ISBN : 9789792256581


Saturday, 22 September 2012

The Academy by Emmaline Andrews


Kristina dan Kristopher Jameson adalah kakak beradik yang terlahir kembar. Saat melahirkan mereka, sang Ibu meninggal dunia sehingga mereka besar dibawah didikan sang Ayah. Sebenarnya lebih tepatnya besar dibawah asuhan pelayan, tutor, dan orang-orang yang digaji sang Ayah untuk menjaga dan mendidik mereka. Kedua kembaran ini memiliki kegemaran dan kemampuan yang bertolak belakang. Kristina, sangat cemerlang pada pelajaran-pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung sedangkan Kristopher unggul dalam bidang musik dengan spesialisasi pada violin.

Dengan kemampuan yang bertolak belakang itu ditambah dengan karakter sang ayah yang keras dan memandang perempuan dengan sebelah mata, masalah muncul ketika sang ayah memutuskan untuk menentukan masa depan mereka tanpa kompromi. Kristopher diwajibkan bersekolah di The Academy padahal satu audisi besar harus diikutinya sementara Kristina akan segera dinikahkan dengan pria pilihan sang Ayah. Merasa hidup mereka bakal berantakan selamanya, tercetuslah ide untuk bertukar tempat diantara keduanya.


Dan demikian terdamparlah Kristina di The Academy, yang merupakan sekolah militer dengan penghuni (baik siswa maupun pengajar) seratus persen laki-laki. Parahnya, baru satu hari Kristina berada di The Academy ia sudah mendapat musuh besar. Apalagi North, roommate Kristina langsung tidak menyukainya tanpa alasan yang jelas. Semuanya menjadi bencana ketika Kristina baru mengetahui jika di asrama mereka hanya ada satu kamar mandi. Itu artinya, semua murid menggunakan kamar mandi tersebut dalam waktu bersamaan seperti lazimnya kamar mandi pada sekolah berasrama lainnya.

Sebagai anak baru dengan badan yang mungil, wajah yang lebih tepat dikatakan cantik daripada ganteng, dan ternyata unggul di dalam kelas, Kristina menjadi bulan-bulanan musuh besar merangkap seniornya tersebut. Entah kenapa setiap Kristina berhadapan dengan musuh besarnya tersebut mendadak North muncul dan menyelamatkannya. North sendiri galau dengan perasaannya. Ia selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa ia punya perasaan lebih dari sekedar roommate kepada Kristina. Apalagi sepertinya Kristina terlalu cantik untuk menjadi seorang cowok. Kegalauan North ini benar-benar memancing tawa saat ia mempertanyakan orientasi seksualnya.

Ceritanya ringan dengan ide cerita yang tidak terlalu brilian. Tapi tetap menarik untuk dibaca. Bahkan covernya pun cukup sederhana. Melihat cewek yang ada di cover tersebut sudah pasti merujuk pada Kristina alias Kristopher palsu. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, kira-kira seperti apa ya tampang Kristopher sebenarnya. Yang mengurangi poin saya bagi buku ini adalah saya tidak suka saat pengakuan North yang membantu adiknya bunuh diri dan Kristina menerima kenyataan tersebut dengan santai. Selain itu, kategori buku ini 'kan YA, lantas dimana adegan pacaran khas YA??? ( __" )

"Why so glum, my dear?" he asked softly. "Do you think it impossible to learn to love the inner person, even if the outer appearance is not what you might wish to be?"

Judul : The Academy
Penulis : Emmaline Andrews
Penerbit : Evangeline Anderson Books
Tebal : 244 halaman
Kategori : Young Adult

Tuesday, 11 September 2012

Almost by Anne Elliot


Tidak ada data pasti berapa jumlah kasus pemerkosaan yang terjadi di baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namun yang pasti permekosaan meninggalkan trauma mendalam bagi para penderitanya. Itu bagi mereka yang diperkosa, bagaimana ceritanya bagi mereka yang hampir saja diperkosa?

Jess Jordan tahu jawabannya. Saat masih menjadi murid baru di SMUnya, suatu malam Jess kabur dari rumahnya dan mengikuti pesta yang diadakan para pemain softball disekolahnya. Di pesta tersebut ia bertemu dengan Gray Potter dan nyaris diperkosa.

Pasca kejadian itu Jess tidak dapat mengingat apa pun yang terjadi malam itu meski mimpinya selalu berisi tentang kilasan-kilasan kejadian malam itu. Sementara Gray mendapat ultimatum dari orangtua Jess untuk menjauhi Jess dan hilang dari pandangan serta hidup Jess. Selama tiga tahun pasca kejadian itu, Jess menjadi sosok yang anti sosial dan aneh. Menjelang tahun terakhirnya, Jess bersiap untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Tapi mengingat trauma yang pernah dialami Jess, ia ragu orangtuanya mengizinkannya untuk kuliah. Untuk menghindari hal tersebut Jess membuat list cara untuk terlihat normal. Caranya adalah dengan memiliki pekerjaan part time sepanjang musim panas dan.... PUNYA PACAR.


Jess kemudian melamar ke Geekstuff.com. Perusahaan itu menerima satu orang karyawan magang untuk musim panas ini dan diakhir serangkaian tes tersisa dua orang kandidat. Jess dan Gray adalah kandidat tersebut. Bagi Gray, pekerjaan tersebut amat sangat dibutuhkannya. Bayaran sebesar 8000 Dollar cukup untuk membayar uang masuk kuliahnya. Sementara bagi Jess, Geekstuff.com adalah jalan untuk dapat terlihat normal dan diizinkan kuliah.

Agar sama-sama dapat bekerja di Geekstuff.com, Jess memberikan penawaran kepada Gray. Jess bersedia tidak digaji asal dia tetap bisa bekerja di Geekstuff.com dan ia membayar Gray sebesar 8000 Dollar asalkan Gray bersedia menjadi pacar pura-puranya sepanjang musim panas. Kesepakatan terjadi dan... Jess punya pekerjaan sekaligus punya pacar. Tapi Jess lupa pada orangtuanya. Orangtua Jess menuntut Jess untuk bertemu dengan Gray. Sedangkan Gray dilarang untuk mendekati Jess. Apalagi sejak kejadian malam itu, Gray terus-terusan merasa bersalah kepada Jess. Bagaimana Gray bisa menghindar dari orangtua Jess sekaligus tetap bisa menjadi pacar bayaran Jess?

Oke. Cukup ceritanya. Yang pasti sepanjang membaca buku ini saya merasa geram pada orangtua Jess. Mereka berpikir apa yang mereka lakukan pastilah yang terbaik buat Jess. Keputusan sepihak mereka justru membuat Jess semakin trauma dan orang lain yang tidak bersalah menanggung perbuatan yang tidak dilakukannya.

Yang saya sukai dari buku ini terletak pada ide cerita dan sudut pandang yang digunakan. Amat sangat jarang ada buku yang mengambil cerita tentang trauma pasca hampir diperkosa. PoV dari sisi Jess maupun Gray membuat emosi yang dirasakan masing-masing tokoh menjadi lebih dalam. Pesan moral yang terselip dalam buku ini menurut saya lebih ditujukan kepada orangtua. Pesan bahwa anak juga seorang manusia yang butuh didengar dan dipahami  pemikiran dan perasaannya. Pesan lainnya yaitu tentang berbagi, berbicara kepada yang lain. Seberat apapun beban yang dimiliki, bila kita mempunyai teman untuk berbagi cerita, pasti akan terasa ringan. Satu lagi yang saya sukai adalah tidak banyak tokoh dalam buku ini dan cerita yang disajikan hanya seputaran Jess dan masa lalunya.

Oh... Jess itu orangnya kreatif. Satu stiker yang dipasang Jess di bumper mobilnya cukup menggelitik. Tulisan stiker itu : "Member BBB : Boys in Books are Better". Setuju dengan Jess? Saya iya.

Ending yang dipaksakan agar cepat selesai adalah hal yang tidak saya sukai di buku ini. Harusnya "pembicaraan" antara Jess dan orangtuanya bisa lebih panjangnya lagi. Rasa menyesal yang dirasakan orangtua Jess seharusnya bisa lebih dalam lagi karena sudah menyebabkan Jess tersiksa selama tiga tahun.

Diperkosa atau hampir diperkosa memiliki efek trauma yang sama pada para korbannya. Yang membedakan hanyalah masalah waktu. Para korban yang hampir diperkosa memiliki waktu yang menyebabkan mereka tidak jadi diperkosa, entah itu karena polisi keburu datang atau lain hal. Tapi efek yang mereka rasakan tak beda jauh dengan korban sesungguhnya. Sayangnya tak ada support group bagi para korban yang hampir diperkosa. Para korban itu juga memiliki pertanyaan "bagaimana jika mereka benar-benar diperkosa" yang biasanya ada di benak mereka.

FYI : selain masuk dalam kategori Young Adult, buku ini juga masuk dalam kategori PTSD Fiction. PTSD merupakan akronim dari Post Traumatic Stress Disorders, yaitu gangguan kecemasan yang terjadi setelah trauma psikologis, sering bersifat berkepanjangan (kronis). Salahsatu gejalanya adalah mengalami mimpi buruk atau kilasan ingatan tentang kejadian yang menyebabkan trauma secara berulang-ulang dan insomnia. Di buku ini, Jess memberikan gejala yang serupa.

Anne Eliot adalah seorang penulis keturunan Italia-Kanada (ibu) dan Irlandia-Amerika (ayah) yang tinggal di Colorado. Seorang relawan, freelance web developer, dan online marketer. Ia bisa dijumpai di situs pribadinya di http://anneeliot.com/.

Judul : Almost
Penulis : Anne Eliot
Penerbit : Butterfly Books
Tebal : 389 halaman
Kategori  : Young Adult


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...