Sunday, 21 October 2012

Ultimate Rescue #4 - Protecting His Own by Lindsay McKenna

Penulis : Lindsay McKenna
Serial : Ultimate Rescue Series #4
Penerbit : Silhouette Books, November 2002
Tebal : 256 halaman
Genre : Military Romance
ISBN : 9780373272556  

His job was to keep her safe. Dr. Samantha Andrews, the head of E.R. at Camp Reed--and Captain Roc Gunnison's nemesis. But as the world-weary marine led the lady M.D. across the earthquake-ravaged landscape, unexpected passions flared. For Roc had never seen such compassion, such strength, in a woman before. And though he'd believed he would never give his heart, he was suddenly in danger of losing it to a certain stubborn beauty who'd gotten under his skin. This siren he had been assigned to protect was quickly becoming the one woman he hungered to claim as his own....

Sudah cukup lama semenjak saya membaca To Will To Love yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Kuingin Mencintaimu. Diakhir cerita tersebut, ada sedikit cerita tentang dr. Samantha Anderson dan Kapten Roc Gunnison yang menurut penuturan Lt. Quinn Grayson bagaikan minyak dan air.  Jelas saya jadi penasaran akan ceritanya.

dr. Samantha Anderson punya kesan pertama yang tidak menyenangkan dengan Kapten Roc. Gunnison. Saat ia sedang bertugas di IGD tiba-tiba sang Kapten berserta rombongannya “menyerbu” masuk dan memaksa dr. Samantha alias Sam memeriksa anak buahnya yang sedang terluka. Sementara di IGD sendiri cukup padat dengan pasien dengan segala kondisi penyakitnya. Pertemuan di IGD itu membawa perasaan tidak senang bagi keduanya.

Dan sekarang, saat Los Angeles tepatnya di Area 5 sedang ditimpa gempa dahsyat ditambah lagi teror dari pemberontak yang membuat keadaan di area tersebut menjadi tidak aman bagi para penduduk yang sedang tertimpa musibah. Saat itulah Sam dan Roc dipertemukan kembali. Sam diwajibkan membuat pos kesehatan dan menangani penduduk yang menderita berbagai macam penyakit seperti diare akibat mengkonsumsi air yang tidak layak minum. Sementara Roc ditugaskan untuk mengintai pergerakan pemberontak yang mengklaim namanya sebagai Diablo alias setan serta menjamin keamanan para personil medis dan para medis anggota Sam.

 Pertemuan pertama sebagai satu tim yang ditugaskan di Area 5 lagi-lagi berlangsung parah. Masing-masing berusaha menunjukkan timnya yang paling dibutuhkan di lokasi kejadian dan tim yang lain hanyalah sebagai pendamping. Roc mulai mempertanyakan anggapan buruknya terhadap Sam saat melihat Sam kaget dan menangis melihat kondisi Area 5 yang hancur-hancuran. Kondisi Area 5 benar-benar diluar dugaan Sam.
Di sela-sela ritme kerja yang gila-gilaan, Roc dan Sam mulai berbagi cerita pribadi masing-masing. Tentang tunangan Sam yang gugur dalam tugasnya sebagai pilot marinir. Tentang Roc yang ternyata seorang pewaris perusahaan besar namun lebih memilih mengabdi pada negara sebagai seorang tentara.

Saat penyusuran lokasi yang akan dijadikan base camp untuk tambahan personil medis yang akan tiba, perang pecah antara tim Roc dan anggota Diablo. Sam yang saat itu juga berada ditempat kejadian malah mengalami imbasnya. Peluru dari tembakan anggota Daiblo menyerempet lengannya. Jelas Roc kelimpungan memikirkan kondisi Sam meski dia mendapat izin untuk mengunjungi Sam.

Setelah sembuh Sam langsung aktif bertugas kembali ke Area 5. Sebagai calon pacar, Roc memerintahkan anak buahnya buat mengikuti gerak-gerik Sam. Emang dasar Sam keras kepala, dengan liciknya dia menyuruh anak buah Roc mengambil sesuatu yang lokasinya jauh dari lokasi ia berada. Dan… datanglah… anggota Diablo menculik Sam.

Membaca dan membayangkan kondisi Los Angeles yang hancur pasca gempa saya malah teringat pada kejadian gempa di Aceh. Serta bertanya-tanya apakah saat itu personil medis, para medis dan  militer yang berada disana sama sibuknya, sama kurang tidurnya dengan yang dialami Roc dan Sam. Keseluruhan cerita di buku ini bisa dinikmati dengan santai. Satu ungkapan yang paling saya sukai dibuku ini adalah The bad thing of being an adult is knowing when it is the wrong time and place.

Friday, 12 October 2012

Ska8er Boy by Mari Mancusi

-->

Mungkin mood seseorang punya kaitan langsung dengan rating yang akan diberikannya ke buku yang baru diselesaikan. Mungkin mood jugalah yang menyebabkan saya kecewa selama membaca buku ini. Dawn Ashley Miller adalah murid di SMU bergengsi tempat anak-anak orang kaya sekolah, lebih suka bicara tentang puisi, politik dari pada fashion, dan anak tunggal. Sebagai anak tunggal Dawn sudah diarahkan kedua orang tuanya untuk kuliah di Harvard, alumni sang bokap. 

Kehidupan Dawn yang tenag tiba-tiba terusik dengan kedatangan anak baru di sekolahnya. Putri sang kepala sekolah yang dikeluarkan dari sekolah berasrama di Eropa karena (gosipnya) mengikuti aliran ilmu hitam. Cukup meyakinkan sih, karena ia sering bergaya ala gothic. Namanya Starr. Dawn penasaran banget pada sosok Starr.

Dawn yang sudah memiliki teman-teman sejak dari kecil menentangnya untuk mendekati Starr karena Starr pasti berpengaruh buruk pada Dawn serta Starr tidak termasuk golongan mereka. Tapi Dawn keukeuh buat mendekati Starr. Di luar dugaan Starr menerima kehadiran Dawn yang dipanggilnya dengan sebutan Barbie. 

Dengan gaya gothic dan pemberontaknya Starr jelas tidak nyaman dengan lingkungan sekolah barunya yang high fashion dan bergelimangan berbagai macam barang-barang branded. Starr pun mengajak Dawn ke lingkungannya. Ke tempat para pemain skateboard alias skater boy. Dari sekian banyak skater boy yang ada di lapangan skateboard, satu skater cowok menarik perhatian Dawn. Panggil ia Sean. Sean sendiri setahun diatas Dawn, sekolah di sekolah umum, dan jika ia berhasil masuk universitas maka ia akan menjadi orang pertama dalam keluarganya yang akan kuliah.

Bersama Sean dan tentunya Starr juga pacarnya Starr, Dawn mulai menjelajahi dunia yang selama ini asing baginya. Konsekuensi dari penjelajahan itu adalah bolosnya Dawn di kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Pada awalnya bisa dipahami kenapa Starr lebih memilih kabur daripada mengikuti pelajaran-pelajaran itu. Setiap hari Dawn selalu dijejali segala macam kegiatan ekstrakulikuler yang diyakini orangtuanya bisa menjadi nilai tambah bagi portfolio-nya untuk masuk ke Harvard dan akan berguna nanti ketika ia tamat. Wajar jika ia jenuh dengan segala macam tuntutan-tuntutan yang berlebihan itu dan kegiatan ekstrakulikuler yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Lama kelamaan saya malah jengkel melihat Dawn. Ia menjadi memaksakan diri agar dipandang setara dengan Dawn dan Sean. Tak cukup bolos Dawn juga menindik pusarnya hanya karena tak ingin dianggap sebagai anak-anak oleh Starr.

Pada satu titik, aksi bolos membolos Dawn diketahui oleh orangtuanya, yang ia panggil dengan sebutan “The Devils One”. Ya jelas ketahuan. Dawn yang selama ini tak pernah bolos mendadak tak pernah muncul di hampir setiap kegiatan ekstakulikuler. Dawn pun dihukum dan segala macam alat komunikasi seperti hp, internet, dan sebagainya ditahan oleh orangtuanya. Parahnya disekolah teman-temannya dulu mengasingkannya karena ia bergaul dengan Starr, sementara teman-teman Starr mendepaknya. Starr? Ia sendiri punya masalah besar. Ia dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan minum minuman berakohol.

Moral ceritanya pada dasarnya bagus. Pesan untuk tidak menghakimi orang dari tampilan luar dan kekayaannya. Don’t jugde book by it’s cover. Pesan untuk tidak menganggap orang miskin pasti tidak memiliki cita-cita dan hanya tahu berbuat kriminal. Tapi masalahnya, penokohannya terlalu dangkal, plotnya terlalu cepat, dan ending yang agak sedikit memaksa.

Awalnya sih pengen memberikan dua smileys tapi saya tambah bintangnya jadi tiga smileys karena saya suka pada ide Romeo – Juliet-nya, pesan moralnya, serta… saya suka pada sosok skaterboy Sean dan pandangan hidupnya yang jauh ke depan.

 Judul : Sk8er Boy
Penulis : Mari Mancussi
Penerbit : Smooch
Format : ebook
Tebal : 181 halaman
Kategori : Young Adult
ISBN : 9780843956047

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...