Monday, 29 July 2013

I For You by Orizuka

Judul : I For You
Penulis : Orizuka
Penerbit : Gagas Media, Maret 2012
Tebal : 384 halaman
Genre : Young Adult
ISBN : 978-979-780-554-8

Sinopsis


Review

Surya ketiban sial di sekolah. Ia, siswa paling miskin yang bisa bersekolah dengan mengandalkan beasiswa harus berpasangan dengan Cessa, murid paling cantik sekaligus paling kaya di sekolah. Bukan hanya karena Cessa langsung menghina kondisinya yang miskin saat pertama kali mereka bertemu tapi juga Cessa murid paling banyak tidak tahu segala pelajaran di sekolah. Muka cantik , kaya raya tapi sayangnya berotak udang. Itu anggapan Surya terhadap Cessa.

Cuma Surya yang menganggap Cessa tak lebih sebagai gangguan dalam hidupnya sejak mereka dipasangkan dalam kelas Biologi. Pengaturan yang membuat Surya jengkel setengah mati karena "pengawal" Cessa selalu memantau dari kejauhan. Orang itu adalah Benji. Cowok ganteng dengan kekayaan orang tuanya setara dengan yang dimiliki orang tua Cessa menurut gosip yang beredar di sekolah adalah pacar Cessa. 

Masalah mulai muncul ketika ternyata Cessa mulai merasa nyaman dengan Surya. Apalagi Surya seperti ensiklopedia berjalan bagi Cessa. Dia tahu banyak hal yang tidak diketahui Cessa khususnya dibidang Astronomi. Benji sendiri juga mulai punya perasaan yang lain pada cewek yang berbeda. Cewek yang dijumpainya berjualan kue di kantin sekolah yang seorang atlit panahan. Cewek tegar, pemberani dan mandiri. Cewek yang 180 derajat berbeda dari sosok cewek yang selama ini dikenalnya, Cessa. Cewek itu Bulan, adik Surya. 

*****

Saya lupa buku ini sudah saya miliki sejak kapan hari. Baru teringat untuk membacanya ketika membongkar kardus kiriman buku saya sendiri dari tempat yang nun jauh disana. Saat membacanya awalnya saya merasa bosan karena sosok Cessa diperlakukan benar-benar seperti seorang putri seperti namanya Princessa Setiawan. Apalagi kesukaannya Cessa pada dongeng-dongeng princess ala Disney.

Belum lagi pada jalan ceritanya yang langsung mengingatkan saya pada Perfect Chemistry. Murid kaya dan miskin yang dipersatukan dalam sebuah tugas sekolah. Tapi salut pada Orizuka yang mampu meramu kisah si kaya dan si miskin ini dengan lebih berwarna dan berbeda. Apalagi ketika Cessa dinyatakan sakit, Orizuka mampu memilih penyakit yang tidak kacangan yang sering dijumpai dibuku-buku yang lain.

Sayang eksekusi ceritanya agak terlalu lambat yang membuat gregetan mengetahui apa sebenarnya penyakit yang diderita Cessa. Dibandingkan dengan cerita Surya dan Cessa saya lebih menyukai cerita Bulan dan Benji yang lebih dewasa dan membumi. Untuk sebuah buku yang baru pertama kali saya baca dari Orizuka, saya cukup puas dengan I For You dan berniat membaca bukunya yang lain. Buku ini sendiri cukup kental nuansa teenlit-nya tanpa berusaha menyisipkan adegan-adegan atau percakapan yang sok dewasa.




@ Halmahera
27072013

Saturday, 27 July 2013

Tall, Dark, and Dangerous #3 - Friscos Kid by Suzanne Brockmann

Judul : Frisco's Kid
Serial : Tall, Dark, and Dangerous #3
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Silhouette Books, Agustus 2007
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781426804861

Sinopsis


Review 

Alan "Frisco" Fransisco terluka dalam operasi penyelamatan Pangeran Tedric di Irak. Sejak saat itu ia cacat dan tidak dapat aktif kembali di Navy SEALs. Dalam keadaan sulit seperti itu Frisco ketiban "rejeki" harus mengasuh Natasha keponakannya. Ibunya Tasha, kakak Frisco terancam dipenjara karena mengemudi dalam keadaan mabuk dan menabrak orang. Frisco dan Tasha akhirnya tinggal bersamaa di apartemen yang sudah cukup lama dimiliki Frisco namun jarang ditempatinya karena terlalu sibuk dinas lapangan. Maklum sebagai anggota Navy SEALs Frisco harus sering bertugas ke mana saja hampir diseluruh dunia.


Frisco depresi akan keadaannya yang cacat. Pilihannya hanya ada dua. Dia non aktif dari Navy SEALs, menganggur dan mabuk-mabukkan seperti ayahnya. Atau tetap di Navy SEALs walau tidak bisa lagi bertugas di lapangan dan menjadi instruktur di kelas-kelas pelatihan SEALs. Tapi masalahnya Frisco benci mengajar. Baginya mengajar hanya mempertegas ketidakmampuannya untuk kembali aktif bertugas di lapangan dan menunjukkan cacat permanen yang dideritanya. Those who can, do. Those who can't, teach.

Pemikiran itu ditolak mentah-mentah oleh Mia Summerton, tetangga Frisco. Menurutnya mengajar bukanlah seperti apa yang dikatakan Frisco. Mengajar bagi Mia adalah cara untuk membentuk masa depan. Those who are taught, do. Those who teach, shape the future. Mia sendiri guru di sebuah sekolah menengah atas di kota mereka. Kehadirannya tak hanya sebagai tetangga namun juga membantu mengasuh Tasya meski Frisco menolak mentah-mentah bantuan Mia.

Keadaan makin runyam saat ternyata kakak Frisco terlibat masalah dengan seorang mafia. Tasha dan Mia menjadi korban. Mereka diculik.Dititik inilah Frisco harus memutuskan keselamatan mereka sekaligus masa depannya. Memilih menyelesaikan urusan dengan menghubungi polisi dan membiarkan mereka melakukan tugasnya. Atau meminta bantuan anggota timnya yang dulu untuk membebaskan Mia dan Tasya walaupun rasanya sakit melihat mereka bisa terjun ke lapangan dan bergerak bebas. Sekaligus menerima tawaran Joe Cat sebagai instruktur.

Saya suka cerita Frisco. Emosinya sebagai tentara aktif yang kemudian terluka dan cacat seumur hidupnya cukup terasa. Namun aksi para Navy SEALs di buku ini kurang banyak, hanya pada menjelang akhir cerita yang lebih terasa emosionalnya daripada aksinya. Buku ini juga telah diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama di tahun 2007.





@ Halmahera
02072013

Thursday, 11 July 2013

The Bride Quartet #1 - Vision In White by Nora Roberts

Serial : The Bride Quartet #1
Penulis : Nora Roberts
Penerbit : Berkley Books, April 2009
Tebal : 352 halaman (ebook)
Genre : Contemporary Romance
eISBN : 978-1101031049
Sinopsis Vision In White

Review

The Bride Quartet adalah cerita empat orang perempuan yang bersahabat sejak kecil dengan passion mereka masing-masing. Ketika dewasa mereka memutuskan membuka jasa wedding organizer dengan spesialisasi sesuai passion mereka. Mac sebagai fotografer, Emma sebagai florist, Laurel sebagai baker, dan Parker sebagai wedding planner. Jasa wedding organizer itu mereka beri nama "Vows" mengacu pada sumpah yang diucapkan pasangan pengantin di hari pernikahan mereka. Seiring waktu Vows tak hanya memberikan pekerjaan bagi mereka tapi juga hidup mereka.

Mackensie Elliot sudah punya passion terhadap dunia fotografi sejak masih kecil. Saat ia mendapat hadiah kamera dari ayahnya dan menjadi fotografer di permainan "Wedding Day" yang ia mainkan bersama ketiga sahabatnya. Akrab dengan dunia pernikahan bukan berarti Mac, panggilan Mackensie percaya pada pernikahan. Mac justru anti pada pernikahan. Ironis memang.


Penyebabnya berkaitan dengan masa kecil Mac. Di umur empat tahun orang tuanya bercerai dan sejak saat itu masing-masing dari mereka berulang kali berganti pasangan dan menikah. Mac menjadi terbiasa dengan kehidupan pernikahan yang tidak stabil akibat kelakuan orangtuanya. Belum lagi sikap mereka. Ayahnya tak pernah peduli pada Mac dan Ibunya drama queen yang menjadi Mac sumber uang pribadinya. Meminta ratusan ribu dollar hanya untuk bersenang-senang dan marah besar jika tidak diberikan. Ibunya tidak pernah berpikir kalau Mac mati-matian mencari uang.

Dari sekian banyak klien yang sedang ditangani Vows, salahsatunya mempertemukan Mac dengan Carter Maguire yangt ternyata teman lamanya. Diam-diam sejak remaja Carter naksir pada Mac. Tapi Mac tidak pernah tahu karena itu hanya menjadi cerita antara Carter dan keluarganya. Saat ini Carter bekerja menjadi seorang guru sastra di sekolah mereka dulu. Kehidupannya yang tenang dan konstan berbanding terbalik dengan ritme hidup Mac yang sibuk, heboh dan berantakan. Keseharian Mac yang penuh warna itu menarik perhatian Carter hingga ia rajin menemani Mac ke berbagai acara pernikahan. Disisi lain, Mac sering melarikan diri ke rumah Carter bila ia merasa jenuh.

Mereka mulai dekat. Tapi Mac malah menjauh dari Carter. Ia takut Carter menjadi bagian dari hidupnya dan mereka mulai membuat komitmen. 

"I can't give up on her," Carter said simply. "I've been waiting for most of my life." 

Carter keukeuh tetap mengejar Mac karena Mac layak diperjuangkan. Keputusan kembali ke Mac, dia bersedia menerima mengambil resiko jatuh cinta pada Carter tau membiarkan Carter pergi saja.

"Take a breath Mac. Love's scary, and sometimes it's transient. But it worth the risks and the nerves. It's even worth the pain."

****

Sepertinya The Bride Quartet ini bakal menjadi serial favorit Nora Roberts yang lain bagi saya. Saya suka pada cara Nora Roberts bertutur. Semua hal dapat tertangkap oleh Nora Roberts termasuk deskripsi tentang perasaan Mac saat momen-momen paling tepat untuk pengambilan foto. Ia juga mampu merangkum arti fotografi. Karena fotografi bukan perkara mengambil gambar dengan kamera canggih namun tentang menemukan momen dan emosi yang tepat dan membekukannya ke dalam sebuah gambar.

Persahabatan yang tak hanya bicara tentang pekerjaan diantara empat sekawan. Kegigihan Carter mendapatkan Mac. Perjuangan Mac menolak permintaan-permintaan tidak masuk akal dari ibunya. Semua emosi tersebut bisa dirangkum oleh Nira Roberts dalam buku ini. Yang membuat buku ini menjadi wajib untuk dibaca bagi para pembaca romance.

Buku ini sudah diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan saya suka covernya. Nuansa pengantinnya dapat banget dan tidak berbeda jauh dengan cover aslinya.

"Some things in life are out of your control. You can make it a party or a tragedy." (Parker)



@ halmahera 02072013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...