Tuesday, 27 August 2013

Revolusi by Reza Nufa

Judul : Revolusi
Penulis : Reza Nufa
Penerbit : Bypass, Juni 2013
Genre : Young Adult
ISBN : 9786021871546



Beberapa tahun lalu saya pernah membaca Revolusi ini. Hanya  saja saat itu masih berupa ebook yang dibagikan Reza secara gratis via akun 4shared-nya. Saat itu saya sudah berjanji untuk memberikan pandangan saya tentang buku ini langsung pasa penulisnya. Tapi saya malu mengingat saya tak memiliki keahlian apa pun untuk menilai suatu karya itu bagus atau tidak kecuali dari pandangan pribadi saya.

Kini, sekian tahun waktu berlalu saya masih ingat utang tersebut. Dan ketika buku ini sudah memasuki penerbit major saya berjanji pada diri sendiri untuk melunasi utang tersebut dan memberikan pandangan saya tentang buku ini. Setidaknya saat ini saya sudah sedikit lebih percaya diri dari yang dulu. Mudah-mudahan reviewnya berimbang dan tidak berat sebelah.

Kita mulai saudara-saudara sebangsa dan setanah air....

Andira alias Dira mahasiswi cantik, lemah lembut tapi kadang juga sedikit bandel. Suatu hari ketika dalam perjalanan ke kampus dengan sepeda motor kesayangannya Dira nekat menerobos jalur busway. Polisi lalu lintas yang sedang bertugas mengawasi lalu lintas dijalan tersebut berusaha menilang Dira. Namun oleh bosnya , ia dilarang dengan alasan “pengendara sepeda motor itu anak seorang TNI.” Si polantas tak bisa berbuat apapun meski dalam hati ia dongkol setengah hati.

Merasa diatas angin karena posisinya sebagai anak seorang TNI Dira dengan leluasa menguasai jalanan. Menerobos jalur busway dan tak punya SIM. Seandainya ayahnya yang galak itu tahu dia tak punya SIM pasti Dira bakal dimarahi habis-habisan. Syukurnya Ayah Dira tak pernah mengecek kelengkapan SIM Dira. Beliau hanya suka duduk di depan televisi, menonton tayangan berita lantas marah-marah tak karuan ke arah televisi.

Tanpa sepengetahuan Dira, polantas yang ingin menilangnya itu masih punya keinginan terpendam untuk menilang Dira. Dan… kesempatan itu datang. Tapi polantas itu luar biasa kaget ketika tahu incarannya selama ini ternyata seorang cewek. Kesempatan menilang menjadi kesempatan buat mendekati Dira #eh Iya bapak polisi itu seorang cowok muda dengan hobi yang tak biasa yaitu suka menulis puisi. Namanya Irham. Irham ini tipe (meminjam istilah #90an) gaya Rambo hati Rinto.

Di kampus, Dira sebenarnya dikenal sebagai cewek galak yang sebenarnya sih karena dia terbiasa dengan gaya hidup militer dari sang ayah. Karena hal tersebut ada banyak cowok yang tak berani mendekatinya. Kecuali Fajar. Sang Ketua BEM juga dengan hobi yang tak biasa yaitu mengorganisir demo. Kedekatan Dira dengan dua orang cowok yang terlalu bertolak belakang itu membingungkan Dira. Terlebih ketika terjadi demo besar-besaran yang sama-sama melibatkan dua orang cowok yang punya hati pada Dira. Di satu sisi Fajar tetap dengan idealismenya untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Di sisi lain Irham harus tetap bertugas sesuai dengan sumpahnya sebagai seorang polisi dan bawahan yang patuh pada atasannya. Tidak ada diantara keduanya yang bersedia mundur dari arena meski keduanya mengaku mencintai Dira dan khawatir pada keselamatan Dira.

****

Revolusi bukan sekedar cerita kisah cinta segitiga dengan pekerjaan tokohnya yang tak biasa. Namun ada sisipan tentang politik didalamnya. Cukup memberikan warna yang berbeda. Sayang karakter Dira, Fajar, dan Irham tak tergali dengan kuat.  Fajar dengan posisinya sebagai demonstran hanya sekedar numpang lewat. Pandangan politik yang diambil Reza dari sisi Fajar terlalu melebar sehingga malah menimbulkan kesan agak dangkal pada pemahaman Fajar terhadap masalah politik yang terjadi. Seandainya saja Reza hanya memfokuskan diri mengambil pandangan politik Fajar sebagai mahasiswa dan lebih menggali tentang aspek-aspek demonstrasi dari sisi mahasiwa demonstran.

Karakter Irham sebagai polisi pun tampaknya hanya tergali dari pandangan masyarakat awam memandang sosok polisi. Bukan pemikiran Irham dari sudut polisi. Tentunya pandangan terhadap tugas dan kebanggaan sebagai polisi punya point berbeda. Tidak hanya sekedar bangga bisa melindungi dan mengayomi masyarakat serta harus patuh pada perintah atasan.

Diluar kekurangannya Revolusi saya rekomendasikan bagi para pembaca yang ingin punya nuansa berbeda saat membaca kisah cinta segitiga. Biasanya profesi-profesi yang lazim ditemui dalam buku adalah bankir, profesional, dokter, dan segala sesuatu yang mirip dengan itu. Profesi polisi dan demonstran (?) tentu akan memberi warna yang lain.

Oh ya… jika disuruh memilih antara Fajar dan Irham, maka saat ini, berhubung saya sedang terpesona dengan seorang polisi yang sering datang ke kantor untuk urusan kerjaannya maka saya lebih memilih Irham ketimbang Fajar ;p


@ Halmahera
21082013

Monday, 19 August 2013

Prom And Prejudice by Elizabeth Eulberg

Judul : Prom And Prejudice
Penulis : Elizabeth Eulberg
Penerbit :  Point, Januari 2011
Tebal : 146 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9780545332552


Jane put her arm around my shoulder. "This is Lizzie Bennet. She started last semester."

"Bennet? I'm afraid I don't know your family. Where do you vacation?"

The questions. These questions were always the start. It didn't take too long after asking question about my family -- what they did for a living, where our second house was, the status of my father's 401K -- that my true identity would be revealed.

Itu cara murid-murid Logbourn Academy berkenalan. Melalui status kekayaan orangtua mereka. Sayangnya heroine kita, Elizabeth Bennet alias Lizzie Bennet tidak punya orang tua yang kaya, harta melimpah, dan tidak berlibur kemana pun layaknya murid lain. Lizzie seorang anak penerima beasiswa yang cukup beruntung  bisa bersekolah di jurusan musik di sekolah elit Logbourn Academy.

Sekolah tersebut punya tradisi unik. Yaitu acara prom alias pesta dansa diawal semester dan pada perayaan Valentine's day. Dua acara itu jadi hajatan besar dan paling penting yang dibicarakan seisi sekolah. Termasuk oleh teman-teman terdekat Lizzie, Jane anak seorang bankir kaya raya yang mendadak bangkrut dan Charlotte anak penerima beassiswa juga. Bukan berarti berteman dengan Jane dan Charlotte membuat Lizze punya banyak teman. Jane dan Charlotte juga termasuk "anak buangan". Sehingga praktis teman Lizze hanya mereka berdua.


Hidup Lizzie sebagai si miskin diantara yang kaya bukan tanpa halangan. Di semester lalu dia habis-habisan dikerjai seluruh sekolah. Wajahnya disiram milkshake, shampoonya diganti losion perontok bulu, bahkan di orange juicenya pun dibubuhi obat pencahar. Tapi Lizzie cewek tegar. Dia mampu melewati semua itu dan bertahan hingga semester ini. Bahkan Lizzie berhasil menjadi pianis nomer satu di sekolah.

Suatu ketika Lizzie diajak ke pesta yang diadakan oleh Charles, gebetan Jane. Di pesta itu ia berkenalan dengan teman Charles yang langsung memasang wajah jutek begitu tahu Lizzie seorang anak beasiswa. Seolah-olah Lizzie tak pantas berkenalan dengannya. Nama cowok itu Will Darcy. Meski begitu, sewaktu diajak ke villa untuk bermain ski oleh Charles, darcy tetap berperilaku baik pada Lizzie meski raut jutek tetap menghiasi wajahnya. Bahkan Darcy mengantar Lizzie ke toko buku dan sempat perang mulut dengan Lizzie  karena menolak dibayari Darcy. Lizzie tidak mau Darcy memandangnya semakin remeh karena menerima barang gratisan dari Darcy.

Darcy sebenarnya punya cerita sendiri mengapa ia bersikap ketus dan jutek kepada Lizzie. Tak hanya kepada Lizzie. Ia juga membenci semua anak penerima beasiswa. Beberapa waktu yang lalu darcy bahkan keluarganya punya masalah besar dengan seorang anak beasiswa. Kejadian itu menimbulkan trauma berat bagi Darcy. Walaupun pada akhirnya pandangannya mulai berobah terhadap Lizzie karena Lizzie tak pernah peduli pada harta keluarga dan nama besar keluarganya.

Meski dekat dengan Darcy, Lizzie sebelumnya juga dekat dengan seorang anak mantan penerima beasiswa. Ia mengenalnya di tempatnya bekerja paruh waktu. Namanya Wick. Cowok manis yang sepertinya juga punya perasaan terhadap Lizzie. Sebagai anak beasiswa Lizzie paham bagaimana perasaan Wick yang ditendang dari jajaran penerima beasiswa di Pemberton Academy oleh perintah Will Darcy dan keluarganya. Iya, Darcy juga sekolah di Pemberton Academy.

Lizzie terpesona oleh kebaikan Wick. Namun ia juga tak bisa memungkiri jika Darcy pelan-pelan mulai membuatnya teringat pada sosoknya yang jutek tapi dikangeni itu. Lizzie harus bisa memilih sekaligus melepaskan yang lain untuk keluar dari hidupnya.

"It's very easy to get a boy to leave a room. It's much harder to get him to leave your thoughts."

Ah.. Lizzie... Jangan galau dong... :p

Meski ini sebuah fanfic dari dari karya klasik Jane Austin Pride And Prejudice, tapi buku ini sukses membawa aura yang lebih segar dan lebih terasa jiwa remajanya. Dan pastinya membuat para pembaca yang belum membaca Pride And Prejudice ingin membacanya setelah membaca buku ini. Setidaknya bagi saya.

Lalu, apa hubungannya antara smua yang telah saya ceritakan dengan pesta dansa? Tentu ada dong. Tapi silahkan dibaca sendiri bukunya untuk lebih jelasnya. Kalau saya ceritakan bakal spoiler dong :p

Apa yang membuat saya menyukai buku ini? Karakter heroinenya adalah yang paling utama. Lizzie kuat dan tangguh. Dia berusaha keras agar tak dipandang sebelah mata oleh siapapun dengan menjadi pianis nomer satu di sekolah. Bahkan dia sudah melakukan resital solo pertamanya. Suatu prestasi yang patut dibanggakan dan membuat iri siapapun. 

Karakter Lizzie yang kuat sejalan dengan tema bullying yang disisipkan. Memberi contoh bahwa bullying itu harus dilawan bukan dibiarkan.


@ Halmahera
18072013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...