Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts
Showing posts with label Gayle Forman. Show all posts

Wednesday, 29 February 2012

#20 If I Stay #2 - Where She Went by Gayle Forman

Baca Bareng BBI di bulan penuh cinta ini #tttsssaaahhh salah satunya bertema Romance, maka saya memutuskan untuk membaca Where She Went yang merupakan penutup untuk serial If I Stay yang sudah saya baca pada Januari namun saya baca ulang dibulan ini dan membuat reviewnya kemarin.


“Aku dikelilingi manusia dan merasa sendirian.” (Adam Wilde – p. 34) 
Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakporandakan hidup gadis itu...

...dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya.

Sekarang Mia bintang muda sekolah musik klasik Juilliard dan Adam bintang rock terkenal. Ketika Adam terjebak di New York sendirian, takdir mempertemukan mereka lagi, untuk satu malam terakhir.

Sambil menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumah Mia, Adam dan Mia kembali mengunjungi masa lalu dan membuka hati untuk masa depan—serta satu sama lain.

Cinta bukanlah hanya tentang kau dan dia. Cinta adalah tentang bagaimana kau bisa bertahan dan menjalani hidup seperti biasa ketika dia yang kau cintai pergi meninggalkanmu.  Tiga tahun setelah kecelakaan tragis yang merenggut keluarga Mia, Mia pun beranjak meninggalkan Adam dalam tanya mengapa. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu tiga tahun itu. Mia terdaftar sebagai murid Juilliard dan menjadi bintang muda berbakat dalam ranah musik klasik. Adam pun menjadi bintang rock terkenal bersama bandnya, Shooting Star. Terkenal dengan album berjudul Collateral Damage, dengan lagu-lagu yang diciptakan Adam atas tanya yang tak sempat tersampaikan kepada Mia.

Tak ada lagi kisah cinta manis jaman sekolah, yang ada hanyalah ceritaa kehidupan seorang bintang muda rock yang terkenal. Gayle Forman, melalui sudut pandang Adam, mengajak kita menyelami perasaan dan pemikiran Adam. Perasaan seorang rocker muda yang sedang naik daun yang selalu dikelilingi groupie, wartawan, pparazi, anggota band, manager, yang ternyata menyimpan rasa sepi di hatinya. Yang menyebabkan seorang Adam berubah secara mengejutkan menjadi penderita anxiety disorder, yang harus selalu menelan obat anticemasnya bila berhadapan dengan khalayak ramai, temperamental, pembuat onar, anti sosial dan sederet perubahan lainnya.

Kita akan dibawa Adam menelusuri sudut-sudut kota New York di siang menjelang sore setelah konfrontasi terakhirnya dengan seorang wartawan. Hingga akhirnya berhenti di Carnegie Hall dan mendapati sebuah serial konser sedang berlangsung yang dibintangi seorang pemain cello muda berbakat, Mia Hall. 

Adam juga akan membawa kita dalam tur "menyelesaikan yang belum selesai" bersama Mia di seputaran kota New York. Berbagi cerita masa lalu, mengungkapkan rasa penasaran yang dipendam bagai api dalam sekam sejak tiga tahun yang lalu.

"Kenapa tidak? Katakan. Kau berutang penjelasan."
"Karena aku membencimu."
"Membenciku? Kenapa?"
"Kau membuatku tetap disini." (p. 170)

Mengungkapkan segala janji yang sempat terucapkan namun terlanjur tak terealisasikan.

"Rasanya akan lebih mudah jika aku mati saja. Bukannya aku ingin mati sekarang. Tidak. Banyak hal dalam kehidupanku membuatku puas, kucintai. Tapi, pada hari-hari tertentu, terutama pada awalnya, rasanya begitu sulit. Dan aku tidak kuasa berpikir bahwa akan jauh lebih mudah jika aku ikut mati bersama mereka. Tapi kau. Kau memintaku tetap disini. Kau memohon agar aku tinggal. Kau berdiri di atasku dan berjanji, sesuci sumpah. Dan aku bisa mengerti kenapa kau marah, tapi kau tidak bisa menyalahkanku. Kau tidak bisa membenciku, karena aku menuruti kata-katamu." (p. 171)

Berbagi cerita tentang takdir atau karma atau apapun itu yang telah mempertemukan mereka kembali.

"Ya, sekarang aku tahu. Tapi, sebelumnya dari mana aku tahu? Kau amat, sangat jauh dariku. Dan aku menerima. Menerimanya sebagai hukuman karena memperlakukanmu seperti itu. Kemudian Adam Wilde muncul di Carnegie Hall pada malam terbesar dalam karierku, dan rasanya itu lebih daripada sekedar kebetulan. Rasanya seperti hadiah. Dari mereka. Di resital pertamaku, mereka membelikanku cello. Dan untuk yang ini, mereka memberiku dirimu." (p. 208)
Ingatan Adam tentang orang-orang terdekat Mia sekaligus orang terdekatnya, perjalanan Shooting Star yang melejit diluar dugaan, dan kerinduannya terhadap Mia, diramu dengan tepat oleh Gayle Forman dan dituangkan dalam perjalanan satu malam Adam dan Mia.

Bicara tentang cover, saya lebih suka dengan cover terbitan Gramedia ini dibanding dengan cover penerbit yang lain yang tidak menampilkan kesan hangat. Pintu berwarna hijaau muda yang catnya sudah usang dan terkelupas dimana pada satu sisinya tersandar gitar berwarna cokelat. Namun cover terbitan Doubleday Children's pada Mei 2011 kemarin mengusik saya dengan taglinenya "If you had a second chance at a first love... would you take it?"


Saat berada di Gramedia Ternate Januari silam dan sedang memilih-milih buku yang akan saya beli tiba-tiba mata saya tertuju ke buku ini yang menumpuk banyak. Saya sempat kelimpungan mencari If I Stay dan berniat meletakkan kembali buku ini saat If I Stay taak saya temukan. Namun hal itu batal ketika tiba-tiba seorang cewek meletakkan If I Stay secara sembarangan tepat di depan saya.

Pada 6 Januari kaum hawa Blogger Buku Indonesia sempat membuat postingan bersama dengan tajuk "Top Five Best Book Boyfriends" dan nama Adam Wilde termasuk nama yang cukup bergaung di postingan tersebut yang membuat saya penasaran akan sosoknya.

PS : Hari ini Posting Bersama BBI dengan tema #romance

Judul Saduran : Setelah Dia Pergi
Penulis : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 240 halaman
Serial : If I Stay #2
Kategori : Young Adult
ISBN : 9789792276503
Rating : untuk tur "menyelesaikan yang belum selesai" Adam dan Mia di seputaran kota New York.



Tuesday, 28 February 2012

#19 If I Stay #1 - If I Stay by Gayle Forman

 

“Pacar itu kata yang tolol. Aku tidak tahan menyebut ibumu seperti itu. Maka kami menikah , jadi aku bisa menyebutnya 'istri'.” (Dad – p. 72)

Mia memiliki segalanya: keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh musik dan pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terenggut darinya.

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya---keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya.

"Amat sangat menyentuh." Publishers Weekly

"Brutal sekaligus indah." School Library Journal

Hidup selalu menyiapkan kejutan tak terduga dan penuh pilihan kepada setiap makhluknya. Keluarga yang luar biasa hangat dan penuh perhatian-Mom, Dad serta Teddy, tiket masuk Juilliard-sekolah musik impian semua pemusik, Kim-sahabat yang menjadi sahabat idaman para perempuan, bakat dan minat pada cello yang mampu menjadi tumpuan pekerjaan dan penghasilan di masa depan, Adam-sang kekasih si rockstar yang mencintainya, betapa sempurnanya kehidupan seorang Mia Hall. Lantas, ketika suatu hari di bulan bersalju semua itu terlepas tak bersisa dalam sebuah kecelakaan mobil, apakah ada pilihan untuk tetap disini melanjutkan hidup atau merelakan semuanya dalam satu hela nafas.

Maka Gayle Forman membawa kita dalam perjalanan sehari bersama jiwa Mia melayang diantara ruang operasi dan ICU. Menjelma menjadi Mia saat melihat Gran, Gramps, Kim, Adam dan lainnya menunggu dengan sabar dan cemas perkembangan keadaan Mia. Menelusuri kembali ingatan Mia tentang Mom dan Dad yang memberikan sebuah cello setelah resital pertama, Teddy yang begitu tergila-gila pada dinosaurus dan Harry Potter, teman-teman Mom dan Dad sewaktu masih muda dulu, Kim sahabat yang penuh dedikasi dan kesetiaan, serta Adam yang menyiapkan perjalanan menyaksikan konser Yo-Yo Ma sebagai kencan pertama.

Menyaksikan bagaimana tubuh Mia harus berulang keluar masuk ruang operasi demi memulihkan kondisinya pasca kecelakaan lalu lintas. Mendengar para dokter berdebat tentang lagu yang akan diputar selama operasi berlangsung. Melihat Kim dan Adam yang bermain kucing-kucingan dengan para perawat ICU hanya agar Adam dapat masuk ke dalam ICU melihat keadaan Mia.

Dan bersama Mia kita dapat merasakan perasaan lega yang menguar dari dirinya saat mendengar pengakuan Gramps.

"Tidak apa-apa, kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apa pun yang kuinginkan di dunia ini. Tapi itu kemauanku dan aku bisa mengerti mungkin itu bukan kemauanmu. Makanya aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku mengerti jika kau pergi. Tidak apa-apa kalau kau harus meninggalkan kami. Tidak apa-apa jika kau ingin berhenti berjuang." (p. 151)

Berbagi cerita tentang Operasi Pengalihan bersama Kim dan perasaan Kim tentang kehilangan Mia.

"Aku terus berpikir, hal terburuk apa sih yang akan terjadi? Aku dipenjara. Ibuku kejang-kejang. Aku dihukum setahun. Tapi setelah apa yang terjadi hari ini, itu tidak berarti apa-apa. Bahkan dipenjara akan terasa mudah dibandingkan kehilanganmu." (p. 181) 

Serta bagaimana Adam yang berbisik pelan mengungkapkan perasaannya serta menyelipkan headphone ditelinga Mia dan membiarkan i-Pod mengalunkan Andante con moto e poco rubato dari YoYo-Ma, yang mengingatkan pada konser yang mereka saksikan saat kencan pertama.

"Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kauinginkan. Aku akan berhenti bermain band, pergi bersamamu ke New York. Tapi jika kau ingin aku menghilang, aku juga akan melakukan itu. Aku tadi bicara dengan Liz dan dia berkata mungkin kembali ke kehidupanmu yang lama akan menyakitkan, bahwa mungkin akan lebih mudah bagimu jika menghapus kami dari kehidupanmu. Dan itu akan sangat menyebalkan, tapi aku akan melakukannya. Aku sanggup kehilangan kau seperti itu, asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup." (p. 192)
Gayle Forman dengan manis merangkum semua kenangan masa lalu Mia dan gambaran akan masa depan serta kenyataan saat ini dalam rentang waktu yang hanya dibedakan oleh hitungan jam dalam satu hari saat Mia harus memilah semuanya dan bertanya pada diri sendiri akan ribuan kemungkinan yang terjadi jika ia tetap disini.

Bicara tentang cover, saya lebih suka dengan cover terbitan Gramedia dibandingkan dengan cover penerbit yang lain. Musim dingin dengan salju yang menumpuk disetiap sudut hutan dengan pohon-pohon yang meranggas menciptakan gradasi warna putih kebiruan yang diperkuat oleh warna coklat bangku taman, menciptakan gambaran dinginnya saat terjadinya kecelakaan, dinginnya ruang ICU, dan dinginnya perasaan Mia.

Meskipun saya juga menyukai cover terbitan Dutton Juvenile pada April 2009.... karena warnanya yang cerah namun kurang dapat menggambarkan isi cerita.


Namun cover terbitan Random House Book for Young Readers pada April 2009 lalu sedikit mengusik saya dengan tagline yang ada pada covernya "What would you do if you had to choose?"



Koma yang dialami Mia adalah suatu kondisi tidur yang sangat dalam, dimana pasien tak dapat dibangunkan, tidak memberikan respon normal terhadap rangsangan sakit atau cahaya, tidak memiliki siklus tidur bangun, dan tidak dapat melakukan tindakan sukarela. Koma dapat terjadi pada berbagai kondisi. (disarikan dari sini)


Glasgow Coma Scale atau GCS yang sempat diteriakkan oleh perawat yang memeriksa Mia di tempat kejadian adalah skala yang dipakai untuk menentukan atau menilai tingkat kesadaran pasien mulai dari sadar sepenuhnya hingga dalam keadaan koma. Teknik penilaian didasari pada tiga elemen penting yaitu respon buka mata, respon motorik terbaik, dan respon verbal. Nilai tertinggi yaitu 15 yang menyatakan sadar sepenuhnya dan terendah 3 yang menyatakan dalam keadaan coma. (disarikan dari sini)

Judul : If I Stay 
Judul Saduran : Jika Aku Tetap Disini
Penulis : Gayle Forman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 200
Serial : If I Stay #1
Kategori : Young Adult
ISBN : 9789792266603
Rating :  untuk perjalanan jiwa Mia saat tubuhnya harus terbaring di ICU.





Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...