Friday, 20 September 2013

#106 Tall, Dark, and Dangerous #5 - Harvard's Education by Suzanne Brockmann

Judul : Harvard's Education
Serial : Tall, Dark & Dangerous #5
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Silhouette Books, September 2007 (terbit pertama pada Oktober 1998)
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781426806148


Team Ten Alpha Squad Navy SEALs kali ini punya tugas tak biasa. Melatih para agen FinCOM yang biasa bertugas mengamankan para orang-orang penting di pemerintahan, tamu kenegaraan, presiden dan wakilnya beserta keluarga mereka. Pelatihan itu tentang terorisme, penyelamatan sandera serta segala hal yang diperlukan untuk pengamanan orang-orang penting itu. Tim FinCOM yang biasa dipanggil "fink" oleh para Navy SEALs terdiri dari tiga pria dan satu wanita. Sejak awal Daryl "Harvard" Becker, chief Alpha Squad sudah punya perhatian pada cewek itu.

P.J. Richard namanya. Selain karena hanya cewek sendiri dalam pelatihan itu, Harvard menaruh perhatian padanya karena sesama Afro Amerika dan lebih pentinga karena kemampuannya melebihi tiga orang agen lainnya. Bahkan untuk kemampuan menembak jitunya. Tak hanya Harvard yang  menyadari kemampuan itu tapi juga Joe Cat dan Blue. Di Navy SEALs sendiri kehadiran perempuan cukup langka. Sehingga berinteraksi dengan P.J. pada pelatihan kali ini cukup terasa berbeda bagi mereka.

Perhatian Harvard diartikan lain oleh P.J.. Ia menganggap Harvard memandangnya sebagai perempuan lemah yang tak pantas mengikuti latihan berat yang biasa dijalani para Navy SEALs yang anggotanya cowok semua. Sehingga ia berusaha mati-matian membuktikan dirinya pantas berdiri sejajar dengan ketiga anggota FinCOM lainnya.

Kelar pelatihan di dalam negeri, mereka pindah latihan  di luar Amerika Serikat. Tapi team Navy SEALs dan FinCOM justru terjebak dalam pelatihan yang berubah menjadi perang diantara dua kelompok pengedar obat bius. Joe Cat tertembak. Lucky dan dua naggota FinCOM terjebak di arena musuh. Blue dan Crah terjebakdi kapal. Mereka tak bisa meminta bantuan. Hanya P.J. dan Harvard yang bisa menolong mereka. Menyelinap ke area musuh, dan membebaskan Joe Cat serta yang lain. Ini saatnya P.J. membuktikan pada Harvard jika ia bukan cewek lemah seperti yang disangka cowok plontos lulusan Harvard tersebut.


***

Suka. Suka. Suka. Saya suka pada cerita Harvard. Romancenya dapat, actionnya juga. Saya juga suka pada interaksi Harvard dan anggota keluarganya. Hangat banget. Nggak nyangka aja Harvard yang kuat, kokoh, dan tegas itu bisa tersipu-sipu malu mendengar ucapan ibunya tentang ia dan P.J..

P.J. jadi idola saya di buku ini. Kuat dan pantang menyerah serta tidak takut pada dominasi laki-laki. Hebat dong. Tentang covernya, yang terbayang di benak saya malah cerita horor atau mungkin fantasi gitu. Cewek cowok di hutan gelap gulita mencari jalan keluar. Saya lebih suka pada cover terbitan Gramedia Pustaka Utama. Bodynya six pack ;p

Btw, ini buku kedua yang reviewnya saya kerjakan ketika disela-sela rapat hari kedua. Sewaktu rapat hari pertama saya mengerjakan review Get Lucky, baca reviewnya disini. Benar-benar produktif saya ini. Rapat sambil mengerjakan review *dikeplak laptop sama si bos*



@ Tidore
29082013

Friday, 13 September 2013

#105 Tall, Dark, and Dangerous #4 - Everyday, Average Jones by Suzanne Brockmann

Judul : Everyday, Average Jones
Serial : Tall, Dark & Dangerous #4
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Silhouette Books, Agustus 2007 (terbit pertama 1998)
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781426804878


Pada penugasannya kali ini anggota US Navy SEALs Harlan "Cowboy" Jones harus membebaskan sandera warga Amerika Serikat yang diculik teroris.Pembebasan itu berhasil gemilang dengan menyisakan kedekatan Cowboy degan sang sandera, Melody Evans. Satu-satunya sandera perempuan dari tiga orang sandera yang diculik.

Kedekatan itu berlanjut hingga Melody diantar pulang ke Amerika Serikat. Cowboy pun kembali ke penugasannya ke suatu tempat misterius. Kedekatan di masa pembebasan itu membawa cerita baru bagi Melody. Ia hamil. Ketika Cowboy mengetahui hal tersebut ia bertanggung jawab atas perilakunya.

Tapi Melody menolak mentah-mentah tanggung jawab Cowboy. Menurutnya ia mencari suami yang tidak membuatnya khawatir setiap pergi tugas. Yang tidak membuatnya selalu bertanya-tanya apakah suaminya akan pulang dalam keadaan selamat atau malah terbujur kaku dalam peti mati. Melody ingin suami yang biasa saja. Yang pekerjan kantoran. Dengan bahaya yang dihadapi hanya luka tergores pinggiran kertas. 

Setiap kunjungan Cowboy ditolak mentah-mentah oleh Melody. Dengan tindakan tersebut ia berharap Cowboy akan jera dan mundur. Tapi Melody lupa. Cowboy seorang anggota Navy SEALs. Tangguh dan pantang menyerah sudah menjadi prosedur standar baginya. Meski ditolak oleh Melody, Cowboy tetap keukeuh. Bahkan hingga berkemah di halaman belakang rumah Melody.


***

Oke... bukunya memang tak sesuai dengan adat ketimuran masyarakat Indonesia. Marriage by accident. Dan menolak pertanggung jawaban dari yang berbuat. Tapi di titik inilah (menurut saya) kedewasaan dan toleransi pembaca diuji. Ada yang menolak bahkan menganggap menjijikan perilaku Melody. Ada yang bersikap biasa saja. Tak dipungkiri juga ada yang setuju dengan tindakan Melody. Well... apa pun itu yang tak boleh dilakukan adalah penghakiman sepihak terhadap orang yang memilih untuk setuju/tidak setuju tindakan yang dilakukan Melody. Toh, menerima tindakan Melody bukan berarti setuju dengan tindakannya. Ingat saja prinsip, elu ya elu, gue ya gue. Ok?

Balik ke soal ceritanya.  Saya sih gak suka banget dengan insta-love yang terjadi di buku ini. Bisa saja sih insta-love itu terjadi dengan memakai sindrom sandera-hero. Si sandera yang jatuh cinta pada penyelamatnya, vice versa. Tapi saya sendiri kurang bisa menerima konsep insta-love tersebut. Belum lagi Melody dengan gaya "jual mahal tapi ngarep" yang bikin sebel. Dibandingkan dengan cerita Ronnie, Lucy, dan Mia, Melody tak cukup pantas untuk disejajarkan dengan mereka. Mengingat ketiga perempuan itu tipe perempuan tegar dan pantang menyerah.

Tapi saya suka pada kegigihan Cowboy mengejar Melody dan caranya menghadapi Andy, keponakan Melody, anak kakaknya. Aksi Navy SEALs kurang terasa dibuku ini. Karena disini Cowboy lebih banyak mengambil cuti darat daripada turun ke lapangan demi mendekati Melody.




@ Halmahera
21082013

Sunday, 8 September 2013

#104 The Rocker #3 - The Rocker That Needs Me by Terri Anne Browning

Judul : The Rocker That Needs Me
Serial : The Rocker #3
Penulis : Terri Anne Browning
Penerbit : Anne Henson, Juli 2013
Tebal : - (data tidak tercantum di Goodreads)
Genre : Contemporary Romance, Erotica
ASIN : B00DSDPTTI
The Demon…

I’ve been fighting my own demons for most of my life. The alcohol seems to numb the pain, but it never makes the nightmares go away. All I want in life is a little peace. When I met my angel it felt like I found it, but there is so much standing between us. Why does she have to be so young…?

The Demon’s Angel…

Meeting Drake was the best thing to ever happen to me. I found my friend, my soul mate. But he lets my age stand between us. There is something that haunts him, and I selfishly want to be the one that helps him conquer his ghosts. If he would just let me in, let me closer, I think I could help him…
 
Oke.... Seperti dua pendahulunya tentang Nik dan Jesse, maka buku ini pun tidak sesuai untuk usia < 18 tahun.  Jadi tolong kembali ke awal jika usiamu memang belum cukup pantas walau hanya untuk membaca reviewnya.

Dibuku kedua sudah sedikit disinggung tentang Drake. Iya Drake dan Lana. Yang saya bilang hubungan mereka kayak om-om dengan remaja itu ._.

Kisah mereka berlanjut bahkan lebih kompleks di buku ketiga ini. Sekarang Drake sudah lebih santai, tenang, dan mulai menekuni kembali hobi melukisnya yang dulu sempat ia tinggalkan. Semua perubahan itu adalah dampak dari kedekatannya dengan Lana. Layla, kakak Lana pun akhirnya mengikhlaskan kedekatan mereka karena dampak positif Lana pada Drake.

Satu malam Drake dan Lana tidur bareng. Parahnya di pagi hari setelah kejadian itu Drake sama sekali tak ingat apa yang terjadi tadi malam. Lana patah hati dan memutuskan untuk pindah ke New York untuk melupakan sakit hatinya. Iya Lana butuh suasana dan kota baru supaya bisa move on dari Drake *enak bener* *patah hati aja mulu biar pindah mulu* *lama-lama bisa keliling dunia karena patah hati*

Drake stress berat!! Dia mulai kembali mabuk-mabukan hingga akhirmya harus direhabilitasi. Pasca rehabilitasi itu, The Demon's Wings mendapat tawaran untuk menjadi salah satu juri pada ajang pencarian bakat. Nik dan Jesse menolak mentah-mentah tawaran itu *gengsi dong* *masa rocker jadi juri gituan* *dikeplak* Tapi Drake langsung menyambar tawaran itu. Apalagi kalau bukan karena ajang pencarian bakat itu diadakan di New York, tempat Lana berada.

New York mempertemukan mereka kembali. Dan kejadian yang dulu pun terulang kembali. Tapi kali ini Lana tak bisa lari. Semua anggota Demon's Wings termasuk Em, Layla, Lucy dan Mia ikut turun ke New York membantu dua sejoli itu menyelesaikan masalahnya. Ternyata masalah kali ini jauh lebih rumit dari yang lalu.
***
Kali ini gregetan yang terasa  di dua buku sebelumnya terasa kurang. Saya kurang menikmati cerita Drake dan Lana. Drake yang sudah dewasa, banyak makan asam garam kehidupan mendadak berubah seperti remaja, galau dan lari ke alkohol gara-gara ditinggal Lana. Lana sibuk sehingga gak bisa ketemu dengannya, Drake langsung galau. Pokoknya Drake kayak remaja banget deh. Gampang bangt galaunya. Saya malah lebih penasaran pada cerita Shane. Iya. Dibuku berikutnya *katanya* tentang Shane  \(^_^)/
 Bicara tentang PoV yang diambil dari dua sudut pandang sebenarnya sudah cukup baik. Namun sayangnya selalu terjadi pengulangan cerita yang ujung-ujungnya terasa membosankan :| Untuk adegan ihik-uhuk-ehemnya kadar dibuku ini jauh lebih banyak dari dua buku sebelumnya.

Tentang covernya.... hhhhmmm... covernya juga kurang menarik bagi saya meski lebih membuat kipas-kipas yang melihatnya. Tidak ada chemistry diantara kedua modelnya. Parahnya melihat cover buku ini saya malah langsung terbayang pada kalimat "habis manis sepah dibuang" #iykwim






@Halmahera
21082013

Saturday, 7 September 2013

#103 Keep Holding On by Susane Colasanti

Penulis : Susane Colasanti
Penerbit : Viking Children's, May 2012
Tebal : 224 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9781101571408


Pernahkah kamu merasa ketika membaca review tentang suatu buku, lalu memutuskan untuk membaca buku tersebut dan... ketika tidak menikmati buku tersebut kamu merasa ada yang salah dengan dirimu?

Saya merasakannya pada buku ini. Saya membuka buku ini dengan ekspektasi tinggi karena buku ini mengangkat tema tentang bullying pada remaja dan karena covernya yang manis. Remaja banget!

Heroine kita bernama Noelle Wexler. Dia dan ibunya tinggal di apartemen sederhana sejak pacar ibunya meninggal dunia dan tidak memberikan peninggalan apapun meski selama ini mereka telah tinggal bareng. Keadaan mereka saat ini sangat kekurangan. Akibatnya di SMU tempat Noelle sekolah ia di-bullying oleh seluruh murid disana. 

Seluruh sekolah menertawakan makan siangnya yang hanya terdiri dari air dan sepotong sandwich berisi daun selada. Mereka menggosipkan sepatu ketsnya yang dipenuhi coretan lyric-lyirc lagu yang dibuat Noelle untuk menutupi lubang disepatunya. Bahkan Matt yang mengaku sayang padanya tidak bersedia tampil dimuka umum sebagai bentuk deklarasi kalau mereka pacaran.


***

Saya bisa mengerti bagaimana seseorang bisa di-bullying hanya karena status ekonominya. Well.. saya mengenal seseorang yang di SMUnya jika ada siswa yang memberikan uang duka selain uang Rp.50.000 atau Rp.100.000 maka siswa tersebut akan ditertawakan seisi kelas dan jadi bahan pembicaraan seisi sekolah. Sehingga teman saya ini selalu berusaha memberi uang duka seperti teman-temannya yang lain meski untuk itu ia harus berpuasa selama beberapa hari karena uang jajannya habis untuk uang duka.

Saya juga bersimpati pada keadaan Noelle. Mengerti bagaimana sakitnya dikucilkan dan diejek. Apalagi ibu Noelle pernah berkata sewaktu Noelle berumur 13 tahun kalau hidup si ibu dirusak total oleh kehadiran/lahirnya Noelle. Apaalagi dirumah si ibu tak pernah memasak untuk Noelle. Ia hanya menyediakan fast food atau makanan beku yang mengakibatkan Noelle mengalami malnutrisi. Ia juga tak pernah sekalipun berbicara pada Noell tentang kehidupan sekolahnya.

Tapi simpati saya berhenti sampai disitu. Sejak halaman awal Noelle dikatakan ingin sekali meninggalkan kota kecilnya karena ia benci hidup disana. Bukannya berjuang agar bisa keluar dari sana, Noelle lebih suka bersikap mengasihi dirinya sendiri, cemburu pada setiap cewek-cewek disekolahnya yang punya barang-barang indah, dan tak punya semangat hidup. Hampir 3/4 isi buku ini isinya Noelle yang sibuk mengasihi dirinya sendiri. 

Hhhhmmm.. apa ya bilangnya. Biasanya orang punya sesuatu yang bisa ia lakukan supaya dia punya tiket untuk keluar dari suatu hal yang dibencinya. Misal berprestasi pada suatu bidang studi atau dibidang lainnya. Noelle jago nulis. Tapi Noelle tidak peduli dengan kemampuannya itu. Dia malah sibuk memperhatikan penampilannya dan... dia menolak kupon gratis makan siang supaya tidak dianggap lebih rendah oleh seisi sekolah. Seharusnya dia berpikir kalau perut yang terisi penuh meski diejek itu jauh lebih menyenangkan dari pada bersikap tinggi hati tapi perutnya kelaparan setiap saat dan tetap juga jadi bahan ejekan.


"I notice Darby's wearing the same shirts I got at the mall a few months ago. Which throws me off all over again. I'm not not used to seeing anyone wear the same clothes I do."

Padahal Noelle punya alasan yang bisa membuatnya semangat. Minimal semangat itu bisa datang dari Sherae sahabatnya yang anak orang kaya yang punya ibu yang selalu saja welcome pada Noelle. Lalu ada Julian Porter. Cowok biasa saja, tidak terlalu populer, teman sebangkunya di kelas Bahasa Spanyol yang sangat perhatian padanya. Diam-diam Julian juga naksir pada Noelle. Tapi Noelle beranggapan kalau dia tak cukup pantas buat Julian.

Ada juga Simon, cowok redaktur majalah sastra di sekolah mereka. Simon selalu menyediakan makan siang untuk seluruh tim majalah tersebut meski sebenarnya tujuan utama Simon adalah Noelle karena Simon tahu Noelle tak pernah cukup makan di rumah, selalu kelaparan, dan malu berada di kantin sekolah dengan kupon makan siang gratisnya. Seandainya saja Noelle tidak sibuk mengasihi dirinya sendiri dia akan tahu kalau dia punya kelebihan. Guru sastra sering memuji dan membicarakan hasil karyanya. Dan mungkin jika tak terlalu terfokus pada diri sendiri ia bisa membantu Ali agar tak terlalu depresi hingga akhirnya bunuh diri.

PoV buku ini dibuat dari sudut pandang Noelle. Mungkin jika dibuat dengan beragam PoV atau minimal dari PoV heroine dan hero-nya pasti karakter Noelle dan Julian lebih terbangun. Dan pembaca bisa tahu sosok Noelle dari sudut pandang orang lain. Karena saya sendiri amat sangat penasaran pada tampilan baru Noelle setelah ia memotong rambutnya di salon mahal dengan meminjam uang Sherae. Menurut Noelle rambut barunya membuatnya makin berantakan dan semua orang bengong melihat rambutnya.

Menurut penulisnya dia menulis buku ini berdasarkan pengalamannya di-bullying sewaktu jaman sekolah dulu. Dan dia ingin membagi pengalamannya kepada remaja-remaja yang lain jika hidup itu tak hanya sebatas SMU dan ada hal yang jauh lebih penting dari tampilan diri. Tapi seperti yang saya katakan, saya bersimpati pada kondisi Noelle tapi lebih dari sekedar simpati. Ia harus belajar untuk kuat, bertahan dengan kehidupan SMU yang tak disukainya, dan pada akhirnya semua akan berlalu juga.

Yah... jika ingin diberi point maka 1 point untuk covernya yang manis yang membuat saya ingin mengoleksi buku ini. Covernya khas YA banget. Dan saya bayangkan penampilan baru Noelle seperti yang ada cover lengkap dengan pita rambutnya. 1 point untuk Sherae, sahabat setia yang bahkan bersedia mengajarkan Noelle menggunakan laundry dirumahnya agar Noelle bisa mencuci baju sendiri karena ia tak tahu bagaimana cara mencuci baju. Biasanya ibu Noelle yang mencuci baju-baju mereka di laundry langganan mereka namun tiba-tiba ibunya berhenti mencuci baju Noelle dan hanya mencuci bajunya sendiri. 1 point terakhir untuk Simon, dengan kepekaannya yang tinggi membantu memberi Noelle makan siang tanpa mempermalukan Noelle.


"My life is happening right now. And whether it remains a complete disaster or starts getting better is up to me. I can't control everything, but there are some things I can change."

 "We're products of our choices. I can make a choice to do more than just survive. Which is why I'm going to start shaping my life into the one I want."



@Halmahera
170712013

Thursday, 5 September 2013

#102 Pushing The Limits #1 - Pushing The Limits by Katie McGarry

Judul : Pushing The Limits
Serial : Pushing The Limits #1
Penulis : Katie McGarry
Penerbit : MIRA Ink, Agustus 2012
Tebal : 392 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9781408957431


Echo Emerson. Cewek cantik, populer, pintar, jago melukis, punya masa depan cerah terbangun diatas tempat tidur rumah sakit dengan tangan yang penuh luka dan tidak ingat apapun yang telah terjadi pada dirinya yang bisa membuatnya terbaring dirumah sakit. Akibat peristiwa yang sama sekali tak bisa diingatnya itu kini kehidupan Echo disekolah berubah total. Geng populer-nya yang dulu selalu menjadi teman terbaiknya kini menjauh, seisi sekolah menggosip dan menertawakannya, ia pun diharuskan mengikuti berbagai sesi terapi, dan selalu memakai baju lengan panjang untuk menutupi bekas lukanya.

Dirumah keadaan sama parahnya. Ayahnya berselingkuh dengan pengasuhnya, abang sebagai satu-satunya saudara kandung tewas di medan perang, dan Echo pun dilarang untuk menemui ibu kandungnya yang kini telah bercerai dari ayahnya. Iya, sekarang ayah Echo menikah dengan si pengasuh itu. Belum cukup larangan untuk berjumpa dengan ibu kandung, Echo juga dilarang untuk kembali mengikuti pelajaran seni. Menurut sang ayah hal itu berbahaya untuk perkembangan mentalnya. Yang tersisa kini hanya mobil milik Aires, sang kakak yang kondisinya cukup memprihatinkan.



Echo bertekad memperbaiki mobil Aires apalagi ketika ayahnya tak bersedia mengeluarkan uang untuk membatunya. Jalan yang tersisa untuk mendapatkan uang adalah dengan bekerja part time. Ia menerima tawaran Mrs. Collins (school counselor) untuk menjadi tutor murid-murid yang mengalami kesulitan belajar di sekolah mereka. Echo mendapat jatah mengajari siswa bernama Noah Hutchins.

Disisi lain hidup Noah Hutchins juga berubah. Api yang membakar rumahnya hanya menyisakan Noah dan kedua adiknya, Tyler dan Jacob. Orangtua Noah tewas dalam kebakaran itu. Belum lagi hilang perasaan berduka atas kematian orang tuanya, Tyler dan Jacob pun harus diurus oleh keluarga adopsi yang lain. Negara beranggapan jika Noah tak memiliki cukup kompetensi untuk mengurus kedua adiknya yang masih balita dan seumuran anak SD itu. Noah dianggap memiliki sifat tempramen terutama karena ia pernah memukul ayah angkatnya.

Satu-satunya jalan bagi Noah agar bisa merebut hak asuh kedua adiknya yaitu dengan keluar dari rumah orangtua angkat pada umur 18 tahun, mencari pekerjaan dan apartemen yang cukup layak, dan mengajukan diri untuk mengasuh kedua adiknya. Cara itu bisa tercapai kalau nilai-nilaai akademis Noah memuaskan. Sayangnya nilai akademis Noah menggenaskan. Mau tidak mau Noah harus menuruti perkataan Mrs. Collins dan menerima Echo sebagai tutornya.

Sesi belajar itu tak hanya membahas tentang kalkulus. Tapi juga tentang masa lalu mereka. Pada satu titik, pengertian atas trauma yang mereka alami terjalin dan menambah kedekatan mereka.

“It doesn't get better," I said. "The pain. The wounds scab over and you don't always feel like a knife is slashing through you. But when you least expect it, the pain flashes to remind you you'll never be the same.”

***

Sudah banyak buku YA yang mengangkat tema trauma yang dialami tokoh utamanya. Tapi Pushing The Limits tetap punya nilai lebih dibanding yang lain. Apalagi dengan pesan tersirat yang muncul hampir disetiap halaman bukunya.

Berbicara karakter, pendewasaan karakter tokoh-tokohnya dibangun secara bertahap. Tidak dengan tergesa-gesa tetap melalui kejadian-kejadian yang berujung pada pengalaman dan pemahaman yang muncul dikehidupan Noah dan Echo, bukan melalui suatu hal yang terjadi mendadak ataupun ingatan dan ilham yang hadir tiba-tiba.

“Why is it when people are proud of me that my life sucks?”

“Because growing up means making tough choices, and doing the right thing doesn’t necessarily mean doing the thing that feels good.”

Interaksi antara Noah dan kedua adiknya juga dibuat bertahap dan sukses bikin hati saya meleleh. Kenangan-kenangan Noah terhadap orangtuanya memang dimunculkan sedikit-sedikit tapi bisa membuat pembaca mengerti mengapa Noah tak ingin kedua adiknya melupakan sosok orangtua mereka. Hal itu juga membuat pembaca mengerti alasan Tyler memandang Noah sebagai super hero-nya yang bahkan jauh lebih hebat dari Batman.

"I wrote about the person I love the most, my older brother, Noah. We don't live together so I wrote what I imagine he does when we're not together."

And what is that?" prodded the stout man.

"He is a superhero who saves people in danger because he saved me and my brother from dying in a fire a couple of years ago. Noah is better than Batman." The crowd chuckled.

Buku ini akan sempurna jika saja antara Noah dan Echo tidak ada cinta yang instan. Dengan masa lalu mereka ditambah dengan kedekatan emosional seharusnya itu bisa dijadikan kelebihan untuk membuat kisah cinta yang timbul secara perlahan namun memiliki emosi yang kuat.

Tentang covernya, saya lebih suka cover terbitan Harlequin Teen tapi.... dengan tampang cewek di cover yang terbitan MIRA Ink (yang diatas) *ribet amat sih put* Karena menurut saya wajah di cover MIRA Ink lebih cocok "nampak" depresinya #halah

Terlepas dari kekurangannya, Pushing The Limits adalah buku yang punya banyak pesan. Tentang menghargai dan menerima diri sendiri sebelum meminta orang lain untuk menerima kita.  Tentang pentingnya keluarga bagi setiap orang pada setiap jenjang kehidupan. Tentang melihat suatu kejadian tak hanya dari satu sisi sehingga tak muncul penghakiman dan salah duga. Tentang apapun yang terjadi, hidup tidak akan berhenti tapi hidup akan terus berjalan dan entah bagaimana caranya kita harus terap memandang maju ke depan.



@Halmahera
01072013

Monday, 2 September 2013

#101 Tall, Dark, and Dangerous #9 - Get Lucky by Suzanne Brockmann

Judul : Get Lucky
Serial : Tall, Dark & Dangerous #9
Penulis : Suzanne Brockmann,
Penerbit : Silhouette Books, Desember 2009 (terbit pertama Maret 2000)
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Supsense
ISBN : 1426851022

LUCKY...IN LOVE?

An unlikely state of affairs. For Navy SEAL Lucky O'Donlon was the original love-'em-and-leave-'em guy. Used to women swooning at his feet. So how could it be that the frustratingly attractive journalist Sydney Jameson had nothing to offer him but one very cold shoulder?

Well, two could play at this game. But first things first--he and Sydney had a job to do. They had to get their man.

Then there would be time enough for him to get his woman....

Oke.. abaikan covernya yang nggak banget itu. Tapi yang pasti saya senang banget bisa menyelesaikan review buku in ditengah rapat yang amat sangat membosankan itu *dikeplak si bos* Kita mulai reviewnya?

Playboy Alpha Squad Tem Ten Navy SEALs kita (?) Lucky O'Donlon kali ini punya cerita. Berhubung adik perempuan satu-satunya akan menikah maka Lucky pun mengundurkan diri dari tugas lapangan di suatu tempat yang tak diketahui. Bahkan sang kapten Joe Cattalonoto pun  tak tahu. Sebagai gantinya Lucky ditugaskan bergabungkan dengan sobat renangnya Frisco dalam sebuah satuan tugas.

Satuan tugas itu beroperasi dikota Coronado Amerika Serikat, bekerja sama dengan FinCOM dan kepolisian setempat. Tujuannya menangkap seorang pemerkosa berantai yang selalu meninggalkan "souvenir" di tubuh korbannya. Budweiser itu bukan sekedar nama minuman keras. Budweiser adalah pin yang diberikan ketika anggota calon Navy SEALs berhasil melewati Hell Week aka. Minggu Nereka, suatu pelatihan fisik extra berat dalam penyeleksian siapa saja yang pantas bergabung dengan Navy SEALs.


Dipertemuan pertama dengan seluruh anggota tim, Lucky sudah punya masalaha dengan salah seorang anggota tim. Syd Jameson alias Sydney Jameson, sang wartawan. Bukan tanpa alasan Lucky bersikap tak menyenangkan pada Syd. Syd menulis artikel di koran lokal yang memojokkan anggota Navy SEALs. Syd sendiri juga tak senang pada Lucky. Dia terlalu sempurna. Tak ubahnya seperti boneka Ken yang dipakaikan baju militer.

"Sorry, I'm late." The man in the doorway was blind-ingly handsome-the blinding due in part to the bright white of his naval uniform and the dazzling rows of colorful ribbons on his chest. But only in part. His face was that of a movie star, with an elegantly thin nose that hinted of aristocracy, and eyes that redefined the word blue. His hair wa sunstreaked and stylishly long in front. Right now it was combed neatly back, but with one puff of wind, or even a brief blast of humidity, it would be dancing around his face, waving tendrils of spun gold. His skin was perfectly tanned-the better to show off the white flash of his teeth as she smiled.

He was, without a doubt, the sheer perfection of a Ken doll come to life."

Lucky dan Syd mau tidak mau harus bekerja sama meski sama-sama tidak suka. Apalagi Lucky berusaha menggunakan pesona O'Donlon-nya yang membuat Syd sebal. Mereka harus bahu-membahu mengejar sang pemerkosa yang makin merajalela bahkan menyerang salah satu istri anggota Navy SEALs di rumahnya.

****

Saya suka melihat Lucky dibuku ini. Dia "manusia" banget. Selama ini kalau membaca tentang anggota  Navy SEALs yang lain, mereka itu seperti manusia super. Tapi disini Lucky bisa merasakan cemburu, cemas dan berbagai macam emosi lainnya. Hanya saja dibuku ini action-nya  kurang terasa, lebih banyak lagi romannya.

Bicara cover, cover yang saya tunjukkan diatas nyebelin yak? Kesannya kayak apa gitu - -" Saya lebih suka pada cover terjemahan terbitan Gramedia Pustaka Utama yang lebih terasa militernya dan lebih tepat untuk dekripsi Lucky yang dituturkan Syd.




@Tidore
28082013

Tuesday, 27 August 2013

#100 Revolusi by Reza Nufa

Judul : Revolusi
Penulis : Reza Nufa
Penerbit : Bypass, Juni 2013
Genre : Young Adult
ISBN : 9786021871546



Beberapa tahun lalu saya pernah membaca Revolusi ini. Hanya  saja saat itu masih berupa ebook yang dibagikan Reza secara gratis via akun 4shared-nya. Saat itu saya sudah berjanji untuk memberikan pandangan saya tentang buku ini langsung pasa penulisnya. Tapi saya malu mengingat saya tak memiliki keahlian apa pun untuk menilai suatu karya itu bagus atau tidak kecuali dari pandangan pribadi saya.

Kini, sekian tahun waktu berlalu saya masih ingat utang tersebut. Dan ketika buku ini sudah memasuki penerbit major saya berjanji pada diri sendiri untuk melunasi utang tersebut dan memberikan pandangan saya tentang buku ini. Setidaknya saat ini saya sudah sedikit lebih percaya diri dari yang dulu. Mudah-mudahan reviewnya berimbang dan tidak berat sebelah.

Kita mulai saudara-saudara sebangsa dan setanah air....

Andira alias Dira mahasiswi cantik, lemah lembut tapi kadang juga sedikit bandel. Suatu hari ketika dalam perjalanan ke kampus dengan sepeda motor kesayangannya Dira nekat menerobos jalur busway. Polisi lalu lintas yang sedang bertugas mengawasi lalu lintas dijalan tersebut berusaha menilang Dira. Namun oleh bosnya , ia dilarang dengan alasan “pengendara sepeda motor itu anak seorang TNI.” Si polantas tak bisa berbuat apapun meski dalam hati ia dongkol setengah hati.

Merasa diatas angin karena posisinya sebagai anak seorang TNI Dira dengan leluasa menguasai jalanan. Menerobos jalur busway dan tak punya SIM. Seandainya ayahnya yang galak itu tahu dia tak punya SIM pasti Dira bakal dimarahi habis-habisan. Syukurnya Ayah Dira tak pernah mengecek kelengkapan SIM Dira. Beliau hanya suka duduk di depan televisi, menonton tayangan berita lantas marah-marah tak karuan ke arah televisi.

Tanpa sepengetahuan Dira, polantas yang ingin menilangnya itu masih punya keinginan terpendam untuk menilang Dira. Dan… kesempatan itu datang. Tapi polantas itu luar biasa kaget ketika tahu incarannya selama ini ternyata seorang cewek. Kesempatan menilang menjadi kesempatan buat mendekati Dira #eh Iya bapak polisi itu seorang cowok muda dengan hobi yang tak biasa yaitu suka menulis puisi. Namanya Irham. Irham ini tipe (meminjam istilah #90an) gaya Rambo hati Rinto.

Di kampus, Dira sebenarnya dikenal sebagai cewek galak yang sebenarnya sih karena dia terbiasa dengan gaya hidup militer dari sang ayah. Karena hal tersebut ada banyak cowok yang tak berani mendekatinya. Kecuali Fajar. Sang Ketua BEM juga dengan hobi yang tak biasa yaitu mengorganisir demo. Kedekatan Dira dengan dua orang cowok yang terlalu bertolak belakang itu membingungkan Dira. Terlebih ketika terjadi demo besar-besaran yang sama-sama melibatkan dua orang cowok yang punya hati pada Dira. Di satu sisi Fajar tetap dengan idealismenya untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa dan masyarakat. Di sisi lain Irham harus tetap bertugas sesuai dengan sumpahnya sebagai seorang polisi dan bawahan yang patuh pada atasannya. Tidak ada diantara keduanya yang bersedia mundur dari arena meski keduanya mengaku mencintai Dira dan khawatir pada keselamatan Dira.

****

Revolusi bukan sekedar cerita kisah cinta segitiga dengan pekerjaan tokohnya yang tak biasa. Namun ada sisipan tentang politik didalamnya. Cukup memberikan warna yang berbeda. Sayang karakter Dira, Fajar, dan Irham tak tergali dengan kuat.  Fajar dengan posisinya sebagai demonstran hanya sekedar numpang lewat. Pandangan politik yang diambil Reza dari sisi Fajar terlalu melebar sehingga malah menimbulkan kesan agak dangkal pada pemahaman Fajar terhadap masalah politik yang terjadi. Seandainya saja Reza hanya memfokuskan diri mengambil pandangan politik Fajar sebagai mahasiswa dan lebih menggali tentang aspek-aspek demonstrasi dari sisi mahasiwa demonstran.

Karakter Irham sebagai polisi pun tampaknya hanya tergali dari pandangan masyarakat awam memandang sosok polisi. Bukan pemikiran Irham dari sudut polisi. Tentunya pandangan terhadap tugas dan kebanggaan sebagai polisi punya point berbeda. Tidak hanya sekedar bangga bisa melindungi dan mengayomi masyarakat serta harus patuh pada perintah atasan.

Diluar kekurangannya Revolusi saya rekomendasikan bagi para pembaca yang ingin punya nuansa berbeda saat membaca kisah cinta segitiga. Biasanya profesi-profesi yang lazim ditemui dalam buku adalah bankir, profesional, dokter, dan segala sesuatu yang mirip dengan itu. Profesi polisi dan demonstran (?) tentu akan memberi warna yang lain.

Oh ya… jika disuruh memilih antara Fajar dan Irham, maka saat ini, berhubung saya sedang terpesona dengan seorang polisi yang sering datang ke kantor untuk urusan kerjaannya maka saya lebih memilih Irham ketimbang Fajar ;p


@ Halmahera
21082013

Monday, 19 August 2013

#99 Prom And Prejudice by Elizabeth Eulberg

Judul : Prom And Prejudice
Penulis : Elizabeth Eulberg
Penerbit :  Point, Januari 2011
Tebal : 146 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9780545332552


Jane put her arm around my shoulder. "This is Lizzie Bennet. She started last semester."

"Bennet? I'm afraid I don't know your family. Where do you vacation?"

The questions. These questions were always the start. It didn't take too long after asking question about my family -- what they did for a living, where our second house was, the status of my father's 401K -- that my true identity would be revealed.

Itu cara murid-murid Logbourn Academy berkenalan. Melalui status kekayaan orangtua mereka. Sayangnya heroine kita, Elizabeth Bennet alias Lizzie Bennet tidak punya orang tua yang kaya, harta melimpah, dan tidak berlibur kemana pun layaknya murid lain. Lizzie seorang anak penerima beasiswa yang cukup beruntung  bisa bersekolah di jurusan musik di sekolah elit Logbourn Academy.

Sekolah tersebut punya tradisi unik. Yaitu acara prom alias pesta dansa diawal semester dan pada perayaan Valentine's day. Dua acara itu jadi hajatan besar dan paling penting yang dibicarakan seisi sekolah. Termasuk oleh teman-teman terdekat Lizzie, Jane anak seorang bankir kaya raya yang mendadak bangkrut dan Charlotte anak penerima beassiswa juga. Bukan berarti berteman dengan Jane dan Charlotte membuat Lizze punya banyak teman. Jane dan Charlotte juga termasuk "anak buangan". Sehingga praktis teman Lizze hanya mereka berdua.


Hidup Lizzie sebagai si miskin diantara yang kaya bukan tanpa halangan. Di semester lalu dia habis-habisan dikerjai seluruh sekolah. Wajahnya disiram milkshake, shampoonya diganti losion perontok bulu, bahkan di orange juicenya pun dibubuhi obat pencahar. Tapi Lizzie cewek tegar. Dia mampu melewati semua itu dan bertahan hingga semester ini. Bahkan Lizzie berhasil menjadi pianis nomer satu di sekolah.

Suatu ketika Lizzie diajak ke pesta yang diadakan oleh Charles, gebetan Jane. Di pesta itu ia berkenalan dengan teman Charles yang langsung memasang wajah jutek begitu tahu Lizzie seorang anak beasiswa. Seolah-olah Lizzie tak pantas berkenalan dengannya. Nama cowok itu Will Darcy. Meski begitu, sewaktu diajak ke villa untuk bermain ski oleh Charles, darcy tetap berperilaku baik pada Lizzie meski raut jutek tetap menghiasi wajahnya. Bahkan Darcy mengantar Lizzie ke toko buku dan sempat perang mulut dengan Lizzie  karena menolak dibayari Darcy. Lizzie tidak mau Darcy memandangnya semakin remeh karena menerima barang gratisan dari Darcy.

Darcy sebenarnya punya cerita sendiri mengapa ia bersikap ketus dan jutek kepada Lizzie. Tak hanya kepada Lizzie. Ia juga membenci semua anak penerima beasiswa. Beberapa waktu yang lalu darcy bahkan keluarganya punya masalah besar dengan seorang anak beasiswa. Kejadian itu menimbulkan trauma berat bagi Darcy. Walaupun pada akhirnya pandangannya mulai berobah terhadap Lizzie karena Lizzie tak pernah peduli pada harta keluarga dan nama besar keluarganya.

Meski dekat dengan Darcy, Lizzie sebelumnya juga dekat dengan seorang anak mantan penerima beasiswa. Ia mengenalnya di tempatnya bekerja paruh waktu. Namanya Wick. Cowok manis yang sepertinya juga punya perasaan terhadap Lizzie. Sebagai anak beasiswa Lizzie paham bagaimana perasaan Wick yang ditendang dari jajaran penerima beasiswa di Pemberton Academy oleh perintah Will Darcy dan keluarganya. Iya, Darcy juga sekolah di Pemberton Academy.

Lizzie terpesona oleh kebaikan Wick. Namun ia juga tak bisa memungkiri jika Darcy pelan-pelan mulai membuatnya teringat pada sosoknya yang jutek tapi dikangeni itu. Lizzie harus bisa memilih sekaligus melepaskan yang lain untuk keluar dari hidupnya.

"It's very easy to get a boy to leave a room. It's much harder to get him to leave your thoughts."

Ah.. Lizzie... Jangan galau dong... :p

Meski ini sebuah fanfic dari dari karya klasik Jane Austin Pride And Prejudice, tapi buku ini sukses membawa aura yang lebih segar dan lebih terasa jiwa remajanya. Dan pastinya membuat para pembaca yang belum membaca Pride And Prejudice ingin membacanya setelah membaca buku ini. Setidaknya bagi saya.

Lalu, apa hubungannya antara smua yang telah saya ceritakan dengan pesta dansa? Tentu ada dong. Tapi silahkan dibaca sendiri bukunya untuk lebih jelasnya. Kalau saya ceritakan bakal spoiler dong :p

Apa yang membuat saya menyukai buku ini? Karakter heroinenya adalah yang paling utama. Lizzie kuat dan tangguh. Dia berusaha keras agar tak dipandang sebelah mata oleh siapapun dengan menjadi pianis nomer satu di sekolah. Bahkan dia sudah melakukan resital solo pertamanya. Suatu prestasi yang patut dibanggakan dan membuat iri siapapun. 

Karakter Lizzie yang kuat sejalan dengan tema bullying yang disisipkan. Memberi contoh bahwa bullying itu harus dilawan bukan dibiarkan.


@ Halmahera
18072013

Monday, 29 July 2013

#98 I For You by Orizuka

Judul : I For You
Penulis : Orizuka
Penerbit : Gagas Media, Maret 2012
Tebal : 384 halaman
Genre : Young Adult
ISBN : 978-979-780-554-8

Sinopsis


Review

Surya ketiban sial di sekolah. Ia, siswa paling miskin yang bisa bersekolah dengan mengandalkan beasiswa harus berpasangan dengan Cessa, murid paling cantik sekaligus paling kaya di sekolah. Bukan hanya karena Cessa langsung menghina kondisinya yang miskin saat pertama kali mereka bertemu tapi juga Cessa murid paling banyak tidak tahu segala pelajaran di sekolah. Muka cantik , kaya raya tapi sayangnya berotak udang. Itu anggapan Surya terhadap Cessa.

Cuma Surya yang menganggap Cessa tak lebih sebagai gangguan dalam hidupnya sejak mereka dipasangkan dalam kelas Biologi. Pengaturan yang membuat Surya jengkel setengah mati karena "pengawal" Cessa selalu memantau dari kejauhan. Orang itu adalah Benji. Cowok ganteng dengan kekayaan orang tuanya setara dengan yang dimiliki orang tua Cessa menurut gosip yang beredar di sekolah adalah pacar Cessa. 

Masalah mulai muncul ketika ternyata Cessa mulai merasa nyaman dengan Surya. Apalagi Surya seperti ensiklopedia berjalan bagi Cessa. Dia tahu banyak hal yang tidak diketahui Cessa khususnya dibidang Astronomi. Benji sendiri juga mulai punya perasaan yang lain pada cewek yang berbeda. Cewek yang dijumpainya berjualan kue di kantin sekolah yang seorang atlit panahan. Cewek tegar, pemberani dan mandiri. Cewek yang 180 derajat berbeda dari sosok cewek yang selama ini dikenalnya, Cessa. Cewek itu Bulan, adik Surya. 

*****

Saya lupa buku ini sudah saya miliki sejak kapan hari. Baru teringat untuk membacanya ketika membongkar kardus kiriman buku saya sendiri dari tempat yang nun jauh disana. Saat membacanya awalnya saya merasa bosan karena sosok Cessa diperlakukan benar-benar seperti seorang putri seperti namanya Princessa Setiawan. Apalagi kesukaannya Cessa pada dongeng-dongeng princess ala Disney.

Belum lagi pada jalan ceritanya yang langsung mengingatkan saya pada Perfect Chemistry. Murid kaya dan miskin yang dipersatukan dalam sebuah tugas sekolah. Tapi salut pada Orizuka yang mampu meramu kisah si kaya dan si miskin ini dengan lebih berwarna dan berbeda. Apalagi ketika Cessa dinyatakan sakit, Orizuka mampu memilih penyakit yang tidak kacangan yang sering dijumpai dibuku-buku yang lain.

Sayang eksekusi ceritanya agak terlalu lambat yang membuat gregetan mengetahui apa sebenarnya penyakit yang diderita Cessa. Dibandingkan dengan cerita Surya dan Cessa saya lebih menyukai cerita Bulan dan Benji yang lebih dewasa dan membumi. Untuk sebuah buku yang baru pertama kali saya baca dari Orizuka, saya cukup puas dengan I For You dan berniat membaca bukunya yang lain. Buku ini sendiri cukup kental nuansa teenlit-nya tanpa berusaha menyisipkan adegan-adegan atau percakapan yang sok dewasa.




@ Halmahera
27072013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...