Tuesday, 27 November 2012

#59 Something Like Normal by Trish Doller


Travis Stephenson alias Solo memilih mengikuti rekrutmen anggota Marinir US setelah ia lulus SMU. Keputusan itu ia ambil sebagai bentuk kekecewaan atas kemarahan sang Ayah saat melihatnya keluar dari klub sepak bola di SMU.

Perang yang terjadi di Timur Tengah berdampak juga pada kehidupan militer Travis. Sebagai marinir, ia pasti bakal ditempatkan di zona perang. Afganistan adalah lokasi penempatannya. Setelah sekian lama bertugas, akhirnya tugas itu selesai dan Travis pun kembali ke Amerika Serikat untuk menunggu penempatan selanjutnya. Di rumah, bukannya mendapat sambutan hangat, Travis malah menemukan segala hal sudah berbeda kecuali kondisi kamarnya.

Perubahan pertama terjadi pada Paige, pacar Travis sebelum ia ditugaskan ke Afganistan saat ini sudah resmi menjadi pacar Ryan. Siapa Ryan? Dia adik kandung Travis. Tak cuma mengambil pacar Travis, Ryan juga menjadikan mobil Travis sebagai hak milik pribadinya. Ayah Travis juga bermasalah. Beliau ketahuan selingkuh. Rumah tangga orangtua Travis pelan-pelan menuju perceraian. Hubungan Travis dengan ayanhya pun juga tak ada perubahan. Awalnya ayah Travis menyambut hangat, tapi setelah acara makan malam dimana Travis menolak membicarakan apa saja yang dialaminya di Afganistan, ayahnya kembali bersikap dingin seperti saat Travis memutuskan keluar dari klub sepak bola. Bagi sang ayah, Travis hanyalah kambing hitam dalam keluarganya yang menghancurkan segala mimpi sang Ayah.

Travis menyimpan semua yang terjadi di Afganistan karena ia sendiri punya rahasia. Sahabat dekatnya yang bernama Charlie tewas tertembak. Sejak kejadian itu Travis selalu mengalami mimpi buruk ketika mereka diserang kelompok Taliban dan Charlie tertembak lantas meninggal sebelum Travis sempat memanggil bantuan. Sepulang dari Afganistan Charlie selalu hadir, tersenyum atau hanya menatap Travis seolah bertanya tentang tindakan yang diambil Travis terhadap sesuatu hal. Tapi itu hanya terjadi dalam imajinasi Travis.

Bingung harus berbuat apa, tapi juga malu kalau harus menceritakan mimpi buruk dan imajinasinya kepada orang lain Travis memutuskan untuk menemui dokter di pusat rehabilitasi anggota Marinir. Setelah berada di sana, ia malah lari. Ruang rehabilitasi itu dipenuhi oleh para veteran berusia lanjut yang mengalami berbagai cacat fisik akibat bertempur di segala macam medan pertempuran. Rasanya tidak pantas Travis yang berumur semuda itu ada disana.

Satu-satunya orang yang paham, peduli dan tidak menghakimi Travis justru orang yang selama ini sudah dibuatnya sakit hati. Harper Gray. Kalimat pendek yang pernah diucapkan Travis sewaktu jaman sekolah dulu malah berkembang menjadi gosip yang sama sekali tak benar. Gosip yang berujung menjadi sebuah julukan buat Harper sayangnya tak selesai hingga mereka tamat sekolah. Gosip itu terus bertahan hingga saat ini, jauh setelah mereka tamat. Di satu sisi Travis harus berjuang menghadapi segala trauma yang dihadapinya pasca dari Afganistan, di sisi yang lain Travis juga harus bisa membuat Haper memaafkan segala perbuatannya dulu dan berteman dengannya. Karena tanpa orang yang bisa diajak untuk berbagi cerita sulit rasanya untuk bisa hidup layaknya orang normal.

"I don't know if my life will ever be completely normal again, but something like normal is a good start."

Penulis : Tris Doller
Tebal : 142 halaman
Penerbit : Bloomsbury Books, June 2012
Format : ebook
Kategori : Young Adult, Military Romance
ISBN : 1599908638


Sunday, 21 October 2012

#58 Ultimate Rescue #4 - Protecting His Own by Lindsay McKenna

Penulis : Lindsay McKenna
Serial : Ultimate Rescue Series #4
Penerbit : Silhouette Books, November 2002
Tebal : 256 halaman
Genre : Military Romance
ISBN : 9780373272556  

His job was to keep her safe. Dr. Samantha Andrews, the head of E.R. at Camp Reed--and Captain Roc Gunnison's nemesis. But as the world-weary marine led the lady M.D. across the earthquake-ravaged landscape, unexpected passions flared. For Roc had never seen such compassion, such strength, in a woman before. And though he'd believed he would never give his heart, he was suddenly in danger of losing it to a certain stubborn beauty who'd gotten under his skin. This siren he had been assigned to protect was quickly becoming the one woman he hungered to claim as his own....

Sudah cukup lama semenjak saya membaca To Will To Love yang telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Kuingin Mencintaimu. Diakhir cerita tersebut, ada sedikit cerita tentang dr. Samantha Anderson dan Kapten Roc Gunnison yang menurut penuturan Lt. Quinn Grayson bagaikan minyak dan air.  Jelas saya jadi penasaran akan ceritanya.

dr. Samantha Anderson punya kesan pertama yang tidak menyenangkan dengan Kapten Roc. Gunnison. Saat ia sedang bertugas di IGD tiba-tiba sang Kapten berserta rombongannya “menyerbu” masuk dan memaksa dr. Samantha alias Sam memeriksa anak buahnya yang sedang terluka. Sementara di IGD sendiri cukup padat dengan pasien dengan segala kondisi penyakitnya. Pertemuan di IGD itu membawa perasaan tidak senang bagi keduanya.

Dan sekarang, saat Los Angeles tepatnya di Area 5 sedang ditimpa gempa dahsyat ditambah lagi teror dari pemberontak yang membuat keadaan di area tersebut menjadi tidak aman bagi para penduduk yang sedang tertimpa musibah. Saat itulah Sam dan Roc dipertemukan kembali. Sam diwajibkan membuat pos kesehatan dan menangani penduduk yang menderita berbagai macam penyakit seperti diare akibat mengkonsumsi air yang tidak layak minum. Sementara Roc ditugaskan untuk mengintai pergerakan pemberontak yang mengklaim namanya sebagai Diablo alias setan serta menjamin keamanan para personil medis dan para medis anggota Sam.

 Pertemuan pertama sebagai satu tim yang ditugaskan di Area 5 lagi-lagi berlangsung parah. Masing-masing berusaha menunjukkan timnya yang paling dibutuhkan di lokasi kejadian dan tim yang lain hanyalah sebagai pendamping. Roc mulai mempertanyakan anggapan buruknya terhadap Sam saat melihat Sam kaget dan menangis melihat kondisi Area 5 yang hancur-hancuran. Kondisi Area 5 benar-benar diluar dugaan Sam.
Di sela-sela ritme kerja yang gila-gilaan, Roc dan Sam mulai berbagi cerita pribadi masing-masing. Tentang tunangan Sam yang gugur dalam tugasnya sebagai pilot marinir. Tentang Roc yang ternyata seorang pewaris perusahaan besar namun lebih memilih mengabdi pada negara sebagai seorang tentara.

Saat penyusuran lokasi yang akan dijadikan base camp untuk tambahan personil medis yang akan tiba, perang pecah antara tim Roc dan anggota Diablo. Sam yang saat itu juga berada ditempat kejadian malah mengalami imbasnya. Peluru dari tembakan anggota Daiblo menyerempet lengannya. Jelas Roc kelimpungan memikirkan kondisi Sam meski dia mendapat izin untuk mengunjungi Sam.

Setelah sembuh Sam langsung aktif bertugas kembali ke Area 5. Sebagai calon pacar, Roc memerintahkan anak buahnya buat mengikuti gerak-gerik Sam. Emang dasar Sam keras kepala, dengan liciknya dia menyuruh anak buah Roc mengambil sesuatu yang lokasinya jauh dari lokasi ia berada. Dan… datanglah… anggota Diablo menculik Sam.

Membaca dan membayangkan kondisi Los Angeles yang hancur pasca gempa saya malah teringat pada kejadian gempa di Aceh. Serta bertanya-tanya apakah saat itu personil medis, para medis dan  militer yang berada disana sama sibuknya, sama kurang tidurnya dengan yang dialami Roc dan Sam. Keseluruhan cerita di buku ini bisa dinikmati dengan santai. Satu ungkapan yang paling saya sukai dibuku ini adalah The bad thing of being an adult is knowing when it is the wrong time and place.

Friday, 12 October 2012

#57 Ska8er Boy by Mari Mancusi

-->

Mungkin mood seseorang punya kaitan langsung dengan rating yang akan diberikannya ke buku yang baru diselesaikan. Mungkin mood jugalah yang menyebabkan saya kecewa selama membaca buku ini. Dawn Ashley Miller adalah murid di SMU bergengsi tempat anak-anak orang kaya sekolah, lebih suka bicara tentang puisi, politik dari pada fashion, dan anak tunggal. Sebagai anak tunggal Dawn sudah diarahkan kedua orang tuanya untuk kuliah di Harvard, alumni sang bokap. 

Kehidupan Dawn yang tenag tiba-tiba terusik dengan kedatangan anak baru di sekolahnya. Putri sang kepala sekolah yang dikeluarkan dari sekolah berasrama di Eropa karena (gosipnya) mengikuti aliran ilmu hitam. Cukup meyakinkan sih, karena ia sering bergaya ala gothic. Namanya Starr. Dawn penasaran banget pada sosok Starr.

Dawn yang sudah memiliki teman-teman sejak dari kecil menentangnya untuk mendekati Starr karena Starr pasti berpengaruh buruk pada Dawn serta Starr tidak termasuk golongan mereka. Tapi Dawn keukeuh buat mendekati Starr. Di luar dugaan Starr menerima kehadiran Dawn yang dipanggilnya dengan sebutan Barbie. 

Dengan gaya gothic dan pemberontaknya Starr jelas tidak nyaman dengan lingkungan sekolah barunya yang high fashion dan bergelimangan berbagai macam barang-barang branded. Starr pun mengajak Dawn ke lingkungannya. Ke tempat para pemain skateboard alias skater boy. Dari sekian banyak skater boy yang ada di lapangan skateboard, satu skater cowok menarik perhatian Dawn. Panggil ia Sean. Sean sendiri setahun diatas Dawn, sekolah di sekolah umum, dan jika ia berhasil masuk universitas maka ia akan menjadi orang pertama dalam keluarganya yang akan kuliah.

Bersama Sean dan tentunya Starr juga pacarnya Starr, Dawn mulai menjelajahi dunia yang selama ini asing baginya. Konsekuensi dari penjelajahan itu adalah bolosnya Dawn di kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler. Pada awalnya bisa dipahami kenapa Starr lebih memilih kabur daripada mengikuti pelajaran-pelajaran itu. Setiap hari Dawn selalu dijejali segala macam kegiatan ekstrakulikuler yang diyakini orangtuanya bisa menjadi nilai tambah bagi portfolio-nya untuk masuk ke Harvard dan akan berguna nanti ketika ia tamat. Wajar jika ia jenuh dengan segala macam tuntutan-tuntutan yang berlebihan itu dan kegiatan ekstrakulikuler yang tidak sesuai dengan bakat dan minatnya. Lama kelamaan saya malah jengkel melihat Dawn. Ia menjadi memaksakan diri agar dipandang setara dengan Dawn dan Sean. Tak cukup bolos Dawn juga menindik pusarnya hanya karena tak ingin dianggap sebagai anak-anak oleh Starr.

Pada satu titik, aksi bolos membolos Dawn diketahui oleh orangtuanya, yang ia panggil dengan sebutan “The Devils One”. Ya jelas ketahuan. Dawn yang selama ini tak pernah bolos mendadak tak pernah muncul di hampir setiap kegiatan ekstakulikuler. Dawn pun dihukum dan segala macam alat komunikasi seperti hp, internet, dan sebagainya ditahan oleh orangtuanya. Parahnya disekolah teman-temannya dulu mengasingkannya karena ia bergaul dengan Starr, sementara teman-teman Starr mendepaknya. Starr? Ia sendiri punya masalah besar. Ia dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan minum minuman berakohol.

Moral ceritanya pada dasarnya bagus. Pesan untuk tidak menghakimi orang dari tampilan luar dan kekayaannya. Don’t jugde book by it’s cover. Pesan untuk tidak menganggap orang miskin pasti tidak memiliki cita-cita dan hanya tahu berbuat kriminal. Tapi masalahnya, penokohannya terlalu dangkal, plotnya terlalu cepat, dan ending yang agak sedikit memaksa.

Awalnya sih pengen memberikan dua smileys tapi saya tambah bintangnya jadi tiga smileys karena saya suka pada ide Romeo – Juliet-nya, pesan moralnya, serta… saya suka pada sosok skaterboy Sean dan pandangan hidupnya yang jauh ke depan.

 Judul : Sk8er Boy
Penulis : Mari Mancussi
Penerbit : Smooch
Format : ebook
Tebal : 181 halaman
Kategori : Young Adult
ISBN : 9780843956047

Thursday, 27 September 2012

#56 My Partner by Retni SB


Setiap orang pasti pernah mendengar petuah "kehidupan itu bagaikan roda. Kadang berada diatas, namun pasti akan datang masanya untuk berada di bawah." Itulah yang dialami Tita. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara tiba-tiba ia harus memikul tanggung jawab besar. Membiayai keluarga sementara ia sendiri belum punya pekerjaan karena baru lulus kuliah.

Papa tiba-tiba menjadi tersangka kasus korupsi dan saat ini harus mendekam selama enam bulan di penjara menanggung perbuatan yang tak dilakukannya. Mama yang depresi melihat kondisi Papa terpaksa harus dirawat di panti perawatan. Nena, sang adik, mogok sekolah karena malu menerima ejekan sebagai anak seorang koruptor. Pada siapa Tita bisa bersandar? Om Anto, adik Papa, sudah mendapat surat peringatan dari kantor karena terlalu sering absen dari pekerjaannya untuk membantu keluarga Tita. Rumah satu-satunya tempat berteduh, harus disita negara guna membayar ganti rugi. Sahabat masa kuliah mendadak amnesia dan tidak mengenalnya lagi. Pacar? hilang tanpa jejak sejak Papa ditetapkan sebagai tersangka korupsi.

Dengan bantuan Jodik, kenalan Papa sejak lama Tita melewati semuanya. Tapi ternyata Jodik menyimpan maksud dalam tindakannya. Ia menagih balas atas semua bantuannya dalam bentuk yang tak terbayangkan Tita.

^_^   ^_^

Namanya juga metropop. Tentu saja ceritanya dikemas dengan ringan. Tak terkecuali buku ini. Ringan dan tanpa konflik yang terlalu berbelit-belit. Penokohannya pun tak terlalu banyak. Pekerjaan sebagai arsitek yang dilakoni kedua tokoh utama pun tidak lantas membuat buku ini sarat dengan istilah-istilah arsitektur yang asing bagi orang yang awam akan dunia arsitektur.

Jujur saya agak terkejut saat membaca buku ini karena dalam buku ini kontak fisik antara tokoh utama cewek dan cowok cukup minim. Sulit untuk menemukan hal yang seperti itu. Belum lagi karakter tokoh yang ditampilkan, sangat menghormati kedua orangtua dalam porsi yang tidak berlebihan sehingga karakter-karakter tokohnya tidak too good to be true

Kutipan yang saya sukai dalam buku ini yang (juga) jarang saya temui di buku-buku sejenis ini, yaitu :
"Kalau pacar cuma bikin stress, mungkin suami bisa bikin tenang dan aman." (p. 244)

"Aku nggak pengin pacaran. Aku pengin menikah. Supaya lebih leluasa ngapa-ngapain." (p. 55)

Tentang cover, covernya sederhana saja. Ilustrasi cewek berpayung merah. Tapi entah kenapa saya kurang sreg dengan covernya yang seperti menegaskan sosok wanita karirer yang mapan, yang bisa diinterpretasikan sebagai perwujudan dari Tita. Tapi masalahnya Tita 'kan digambarkan sedang kerepotan menghadapi segala cobaan yang datang tak berhenti, agak tidak tepat rasanya bila sosoknya digambarkan sebagai wanita mapan. Ya sudahlah... mungkin interpretasi saya yang berlebihan tongue. Yang pasti saya tidak kapok membaca tulisan-tulisan mbak Retni SB yang lain.

Judul : My Partner
Penulis : Retni SB
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 288
Kategori : Contemporary Romance
ISBN : 978-979-22-8017-3
Status : pinjem dari OceMei



Sunday, 23 September 2012

#55 Memory and Destiny by Yunisa KD


Oke... Hhhmmm.... Dari mana saya akan mereview buku ini? *nggak bisa narik nafas panjang karena debu vulkanik sedang banyak-banyaknya* Oh iya, sebelum membaca review ini, saya cuma mau mengingatkan kalau review ini panjang dan biasa aja sih isinya...

Lega adalah perasaan pertama yang saya rasakan ketika telah menyelesaikan buku ini. Bukannya tidak menikmati cerita di dalamnya tapi lebih karena akhirnya saya berhasil membaca buku yang kabarnya sempat mengguncang dunia Goodreads Indonesia sehingga seorang reviewer menghapus reviewnya untuk buku ini *lirik yang merasa*

"Bagaimana kalau sebenarnya jodohmu bukan dia? Dan sebenarnya kalian, maksudku, kau dan belahan jiwamu belum dipertemukan oleh Tuhan?"

Pertanyaan singkat itu berhasil membuat galau seorang calon pengantin pria tepat di hari pernikahannya. Pertanyaan yang dilontarkan oleh sang best man, orang yang seharusnya bertugas untuk menenangkan keraguan sang calon pengantin pria itu malah berbalik arah membuat calon pengantin mempertanyakan kembali tindakannya.

Sayang, pernikahan itu tidak pernah terjadi. Kecelakaan hebat menewaskan calon pengantin perempuan dan calon pengantin pria dalam keadaan koma selama berminggu-minggu. Di sudut lain kota Inggris, tepatnya di Kompleks Westminter Abbey, seorang gadis kecil yang sedang menikmati keindahan Westminter Abbey mendapatkan teman barunya. Pria muda nan tampan yang mengenakan tuksedo putih dengan bunga tersemat di dada kirinya. Tanpa diduga si pria begitu setia pada si gadis kecil. Ia bahkan mengikuti si gadis kecil hingga ke Indonesia dan membantunya beradaptasi baik terhadap lingkungan maupun dalam hal pelajarannya. Mereka begitu kompak. Tapi, kata orang, pria itu hanyalah imaginary friends si gadis kecil.

Sekian waktu berselang, pria itu tak pernah muncul kembali dalam hidup si gadis kecil. Gadis kecil itu pun telah menjelma menjadi gadis cantik yang menjadi dambaan para lawan jenisnya. Gadis itu bernama Maroon. Nun jauh di kota London, pria yang mengalami kecelakaan di hari pernikahannya itu kini telah sadar dari koma panjang. Hal pertama yang ditanyakan kepada kedua orangtuanya adalah "Mama, Papa, kalian tahu di mana Maroon?"

Siapa bisa menduga jika sebenarnya mereka saling terhubung? Namun takdir memiliki keputusan sendiri kapan keduanya bertemu meski memakan waktu hingga hitungan tahun. Ketika mereka bertemu, ternyata takdir masih menyimpan kejutan. Ada sosok lain hadir diantara mereka yang percaya ia ditakdirkan untuk bersama dengan salah satu diantara mereka.

Cerita yang menarik bukan?

Ya... ide ceritanya memang menarik. Namun ada beberapa hal yang perlu dicermati di setiap lembarnya. Awalnya saya percaya, sekian banyak reviewer yang berhasil gilang gemilang menemukan hal-hal yang dirasa kurang tepat sehingga saya pasti tak menemukan hal-hal yang kurang tepat ganjil tersebut. Ternyata saya salah besar. Masih ada (sisa-sisa) keganjilan yang bisa saya kutip.

"Gadis kecil itu merasa pria di depannya adalah sosok asli boneka Ken yang menjadi pasangan Barbie, boneka kesayangannya." (p. 13)
Gadis kecil itu baru berumur 10 tahun. Wajar jika ia punya boneka Barbie dan Ken. Namun membayangkan sosok pria dewasa sebagai sosok asli bonekanya perlu diacungi semua jempol (empat jempol tangan dan kaki si gadis kecil, empat jempol tangan dan kaki penulis review ini, empat jempol tangan dan kaki pembaca review ini) buat gadis kecil itu. Luar biasa imajinasinya. Membayangkan sosok yang jauh lebih tua dari usianya sebagai sosok asli bonekanya. TOP MARKOTOP!!! Saya jadi bertanya-tanya mengapa saya sewaktu seumur gadis kecil itu tak mampu membayangkan boneka Ulil yang kakinya warna-warni imut menggemaskan dan banyak itu sebagai seekor Anaconda *mikir serius*

Cerita ini mengambil lokasi di tiga negara dua benua. Inggris, Indonesia, dan Singapura. Yang membingungkan, mengapa Maroon yang besar di London lantas kembali ke Indonesia harus bersusah payah mengikuti pelajaran di sekolah karena bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Indonesia sedangkan Maroon tak begitu lancar berbahasa Indonesia. Jika memang ada rencana kembali ke Indonesia, mengapa sedari awal orangtua Maroon tak membiasakan berbahasa Indonesia dengan Maroon selama di Inggris? Kalau memang orangtua Maroon biasa berbahasa Indonesia dengannya, mengapa sewaktu di Indonesia mereka memasukkan Maroon ke sekolah biasa? Kenapa tidak ke international school yang notabene bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Jadi Maroon tak perlu begitu susahnya berbahasa Indonesia. Contoh dong Cinta Laura. Dia tuh nggak lancar bahasa Indonesia tapi dia sekolah di international school.

"Yah, siapa yang tidak ngeri kalau anaknya melihat seorang pemuda yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, apalagi pemuda itu mengenakan jas putih seperti layaknya jenazah yang disemayamkan di negeri Inggris?" (p. 34)
 Si pria itu 'kan diceritakan di awal mau menghadiri acara pernikahannya sendiri makanya bertuksedo putih. Mengapa konteks jas putih itu malah mengacu ke jenazah bukannya ke calon pengantin? Sedih juga saat membaca kalimat tersebut. Bukankah berarti yang memakai jas putih itu tampak seperti mayat? *menatap pilu ke arah jas putih yang tergantung di dinding*

"Keahlian khusus? Apa ya? Membedah mayat? Hahaha, mana mungkin kutulis seperti itu." (p. 41) Bedah mayat? Masyarakat awam memang mengenal Ilmu Forensik dengan sebutan Bedah Mayat. Seharusnya Maroon yang (katanya) calon dokter itu sudah fasih dengan istilah medis bukan malah membiasakan diri menggunakan bahasa awam. Kan calon dokter. Malu dong kalau nggak terbiasa bicara istilah medis.

"Wiro juga berpikiran sama denganku. Begitu dia kenal kamu, dia teringat dokter Don. Sementara aku, begitu melihat dokter Don, aku teringat kamu! Itu kan berarti there is something about you two.." (p. 52)
Kalau gara-gara satu profesi atau kemiripan yang lain dan langsung ada sesuatu diantara mereka, berarti jodoh itu nggak jauh kemana-mana dong? Hhhhmmmm... curhat dulu ya... Dulu tuh ya saya pernah punya teman yang namanya PUTRALISASI BUNGSU (bener ini nama aslinya) dan dipanggil dengan nama Putra. Sedangkan saya namanya Putri. Berarti??? *langsung mandi kembang tujuh rupa yang airnya diambil dari tujuh aliran sungai* *amit-amit cabang bayi kalau sempat kejadian, soalnya udah nggak berstatus single lagi* *ingat single, jadi ingat kejadian bapak-bapak beberapa hari lalu* *pukpuk si bapak*

One man, one soundtrack adalah salah satu hal yang paling menonjol di buku ini. Donald punya lagu tetap "Sunday Morning"nya Marron 5. Yang terinspirasi dari nama Maroon. Bahkan saking terinspirasinya Donald dengan nama Maroon, hampir semua kemejanya dan warna favoritnya menjadi Maroon. Sementara David, punya lagu kebangsaan "Umbrella"nya Rihana. Semua lagu itu selalu saja berputar-putar di hidup mereka. Apa pun kondisinya lagu ini selalu saja mewarnai perjalanan masing-masing tokohnya. Uuummm... selama saya membaca dan menulis review ini sambil berselang-seling ber-BBM ria, ringtone untuk new message BBM saya yaitu Pasangan Jiwa-nya Kla Project. Setelah dipikir-pikir lirik lagunya sepertinya tepat buat soundtrack saya untuk buku ini. Jadi setiap saya melihat buku ini saya langsung teringat pada lagu Pasangan Jiwa begitu juga sebaliknya. Setuju kan?

 Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Di mana dia pasangan jiwaku
Ku mengejar bayangan, kian menghilang

Tapi masalahnya lagu itu keren dan syahdu banget. Nggak ikhlas rasanya mengasosiasikan lagu sekeren itu dengan buku ini. Walaupun setelah liriknya dilihat-lihat sesuai sih dengan ide dan jalan cerita buku ini. Tapi...

Dengan begitu banyaknya kata "destiny" muncul dibuku ini, saya jadi kepikiran kalau buku ini sebenarnya tidak tepat diberi judul MEMORY and DESTINY tapi lebih tepatnya diberi judul MENGEJAR DESTINY yang jumlah kata destiny-nya... saya nggak ngitung. Males.

Oke, jadi berapa rating untuk buku ini? Satu rating saya berikan untuk covernya yang enak dipandang mata karena berwarna biru dan gambar Westminter Abbey yang berkilauan karena cahaya lampu dengan tidak memandang sosok laki-laki berjas hitam yang tiba-tiba muncul disitu. Merusak pemandangan keindahan Westminter Abbey saja.

Penulis : Yunisa KD
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 halaman
Kategori :Contemporary Romance
ISBN : 9789792256581


Saturday, 22 September 2012

#54 The Academy by Emmaline Andrews


Kristina dan Kristopher Jameson adalah kakak beradik yang terlahir kembar. Saat melahirkan mereka, sang Ibu meninggal dunia sehingga mereka besar dibawah didikan sang Ayah. Sebenarnya lebih tepatnya besar dibawah asuhan pelayan, tutor, dan orang-orang yang digaji sang Ayah untuk menjaga dan mendidik mereka. Kedua kembaran ini memiliki kegemaran dan kemampuan yang bertolak belakang. Kristina, sangat cemerlang pada pelajaran-pelajaran yang membutuhkan kemampuan berhitung sedangkan Kristopher unggul dalam bidang musik dengan spesialisasi pada violin.

Dengan kemampuan yang bertolak belakang itu ditambah dengan karakter sang ayah yang keras dan memandang perempuan dengan sebelah mata, masalah muncul ketika sang ayah memutuskan untuk menentukan masa depan mereka tanpa kompromi. Kristopher diwajibkan bersekolah di The Academy padahal satu audisi besar harus diikutinya sementara Kristina akan segera dinikahkan dengan pria pilihan sang Ayah. Merasa hidup mereka bakal berantakan selamanya, tercetuslah ide untuk bertukar tempat diantara keduanya.


Dan demikian terdamparlah Kristina di The Academy, yang merupakan sekolah militer dengan penghuni (baik siswa maupun pengajar) seratus persen laki-laki. Parahnya, baru satu hari Kristina berada di The Academy ia sudah mendapat musuh besar. Apalagi North, roommate Kristina langsung tidak menyukainya tanpa alasan yang jelas. Semuanya menjadi bencana ketika Kristina baru mengetahui jika di asrama mereka hanya ada satu kamar mandi. Itu artinya, semua murid menggunakan kamar mandi tersebut dalam waktu bersamaan seperti lazimnya kamar mandi pada sekolah berasrama lainnya.

Sebagai anak baru dengan badan yang mungil, wajah yang lebih tepat dikatakan cantik daripada ganteng, dan ternyata unggul di dalam kelas, Kristina menjadi bulan-bulanan musuh besar merangkap seniornya tersebut. Entah kenapa setiap Kristina berhadapan dengan musuh besarnya tersebut mendadak North muncul dan menyelamatkannya. North sendiri galau dengan perasaannya. Ia selalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengapa ia punya perasaan lebih dari sekedar roommate kepada Kristina. Apalagi sepertinya Kristina terlalu cantik untuk menjadi seorang cowok. Kegalauan North ini benar-benar memancing tawa saat ia mempertanyakan orientasi seksualnya.

Ceritanya ringan dengan ide cerita yang tidak terlalu brilian. Tapi tetap menarik untuk dibaca. Bahkan covernya pun cukup sederhana. Melihat cewek yang ada di cover tersebut sudah pasti merujuk pada Kristina alias Kristopher palsu. Saya jadi bertanya-tanya sendiri, kira-kira seperti apa ya tampang Kristopher sebenarnya. Yang mengurangi poin saya bagi buku ini adalah saya tidak suka saat pengakuan North yang membantu adiknya bunuh diri dan Kristina menerima kenyataan tersebut dengan santai. Selain itu, kategori buku ini 'kan YA, lantas dimana adegan pacaran khas YA??? ( __" )

"Why so glum, my dear?" he asked softly. "Do you think it impossible to learn to love the inner person, even if the outer appearance is not what you might wish to be?"

Judul : The Academy
Penulis : Emmaline Andrews
Penerbit : Evangeline Anderson Books
Tebal : 244 halaman
Kategori : Young Adult

Tuesday, 11 September 2012

#53 Almost by Anne Elliot


Tidak ada data pasti berapa jumlah kasus pemerkosaan yang terjadi di baik di Indonesia maupun di luar negeri. Namun yang pasti permekosaan meninggalkan trauma mendalam bagi para penderitanya. Itu bagi mereka yang diperkosa, bagaimana ceritanya bagi mereka yang hampir saja diperkosa?

Jess Jordan tahu jawabannya. Saat masih menjadi murid baru di SMUnya, suatu malam Jess kabur dari rumahnya dan mengikuti pesta yang diadakan para pemain softball disekolahnya. Di pesta tersebut ia bertemu dengan Gray Potter dan nyaris diperkosa.

Pasca kejadian itu Jess tidak dapat mengingat apa pun yang terjadi malam itu meski mimpinya selalu berisi tentang kilasan-kilasan kejadian malam itu. Sementara Gray mendapat ultimatum dari orangtua Jess untuk menjauhi Jess dan hilang dari pandangan serta hidup Jess. Selama tiga tahun pasca kejadian itu, Jess menjadi sosok yang anti sosial dan aneh. Menjelang tahun terakhirnya, Jess bersiap untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. Tapi mengingat trauma yang pernah dialami Jess, ia ragu orangtuanya mengizinkannya untuk kuliah. Untuk menghindari hal tersebut Jess membuat list cara untuk terlihat normal. Caranya adalah dengan memiliki pekerjaan part time sepanjang musim panas dan.... PUNYA PACAR.


Jess kemudian melamar ke Geekstuff.com. Perusahaan itu menerima satu orang karyawan magang untuk musim panas ini dan diakhir serangkaian tes tersisa dua orang kandidat. Jess dan Gray adalah kandidat tersebut. Bagi Gray, pekerjaan tersebut amat sangat dibutuhkannya. Bayaran sebesar 8000 Dollar cukup untuk membayar uang masuk kuliahnya. Sementara bagi Jess, Geekstuff.com adalah jalan untuk dapat terlihat normal dan diizinkan kuliah.

Agar sama-sama dapat bekerja di Geekstuff.com, Jess memberikan penawaran kepada Gray. Jess bersedia tidak digaji asal dia tetap bisa bekerja di Geekstuff.com dan ia membayar Gray sebesar 8000 Dollar asalkan Gray bersedia menjadi pacar pura-puranya sepanjang musim panas. Kesepakatan terjadi dan... Jess punya pekerjaan sekaligus punya pacar. Tapi Jess lupa pada orangtuanya. Orangtua Jess menuntut Jess untuk bertemu dengan Gray. Sedangkan Gray dilarang untuk mendekati Jess. Apalagi sejak kejadian malam itu, Gray terus-terusan merasa bersalah kepada Jess. Bagaimana Gray bisa menghindar dari orangtua Jess sekaligus tetap bisa menjadi pacar bayaran Jess?

Oke. Cukup ceritanya. Yang pasti sepanjang membaca buku ini saya merasa geram pada orangtua Jess. Mereka berpikir apa yang mereka lakukan pastilah yang terbaik buat Jess. Keputusan sepihak mereka justru membuat Jess semakin trauma dan orang lain yang tidak bersalah menanggung perbuatan yang tidak dilakukannya.

Yang saya sukai dari buku ini terletak pada ide cerita dan sudut pandang yang digunakan. Amat sangat jarang ada buku yang mengambil cerita tentang trauma pasca hampir diperkosa. PoV dari sisi Jess maupun Gray membuat emosi yang dirasakan masing-masing tokoh menjadi lebih dalam. Pesan moral yang terselip dalam buku ini menurut saya lebih ditujukan kepada orangtua. Pesan bahwa anak juga seorang manusia yang butuh didengar dan dipahami  pemikiran dan perasaannya. Pesan lainnya yaitu tentang berbagi, berbicara kepada yang lain. Seberat apapun beban yang dimiliki, bila kita mempunyai teman untuk berbagi cerita, pasti akan terasa ringan. Satu lagi yang saya sukai adalah tidak banyak tokoh dalam buku ini dan cerita yang disajikan hanya seputaran Jess dan masa lalunya.

Oh... Jess itu orangnya kreatif. Satu stiker yang dipasang Jess di bumper mobilnya cukup menggelitik. Tulisan stiker itu : "Member BBB : Boys in Books are Better". Setuju dengan Jess? Saya iya.

Ending yang dipaksakan agar cepat selesai adalah hal yang tidak saya sukai di buku ini. Harusnya "pembicaraan" antara Jess dan orangtuanya bisa lebih panjangnya lagi. Rasa menyesal yang dirasakan orangtua Jess seharusnya bisa lebih dalam lagi karena sudah menyebabkan Jess tersiksa selama tiga tahun.

Diperkosa atau hampir diperkosa memiliki efek trauma yang sama pada para korbannya. Yang membedakan hanyalah masalah waktu. Para korban yang hampir diperkosa memiliki waktu yang menyebabkan mereka tidak jadi diperkosa, entah itu karena polisi keburu datang atau lain hal. Tapi efek yang mereka rasakan tak beda jauh dengan korban sesungguhnya. Sayangnya tak ada support group bagi para korban yang hampir diperkosa. Para korban itu juga memiliki pertanyaan "bagaimana jika mereka benar-benar diperkosa" yang biasanya ada di benak mereka.

FYI : selain masuk dalam kategori Young Adult, buku ini juga masuk dalam kategori PTSD Fiction. PTSD merupakan akronim dari Post Traumatic Stress Disorders, yaitu gangguan kecemasan yang terjadi setelah trauma psikologis, sering bersifat berkepanjangan (kronis). Salahsatu gejalanya adalah mengalami mimpi buruk atau kilasan ingatan tentang kejadian yang menyebabkan trauma secara berulang-ulang dan insomnia. Di buku ini, Jess memberikan gejala yang serupa.

Anne Eliot adalah seorang penulis keturunan Italia-Kanada (ibu) dan Irlandia-Amerika (ayah) yang tinggal di Colorado. Seorang relawan, freelance web developer, dan online marketer. Ia bisa dijumpai di situs pribadinya di http://anneeliot.com/.

Judul : Almost
Penulis : Anne Eliot
Penerbit : Butterfly Books
Tebal : 389 halaman
Kategori  : Young Adult


Monday, 27 August 2012

#52 Dark Hunter : Dark Hunter #4 - Kiss Of The Night by Sherrilyn Kenyon


Cassandra dan beberapa orang teman wanita masih saja sibuk mengkategorikan pria-pria yang ada di bar yang mereka datangi ke dalam kategori versi mereka, ketika tiba-tiba para daimon datang ke bar tersebut dan berhasil memojokkan Cassandra. Disaat itulah Cassandra bertemu penolongnya, Wulf.

"Kemampuan"nya membuat orang melupakannya lima menit setelah bertemu dengannya, merupakan berkah sekaligus kutukan bagi Wulf. Namun hal tersebut tak berlaku pada Cassandra. Cassandra tetap dapat mengingatnya. Cassandra adalah sosok wanita istimewa, meskipun sisa hidupnya tinggal delapan bulan lagi karena ia berdarah separuh appolite, tapi sosoknya tetap ceria, berani, dan tabah menghadapi kematian. Keistimewaan itu yang membuat Wulf jatuh hati padanya.

Keistimewaan Cassandra tak hanya berhenti sampai di situ. Darah separuh appolite yang dimilikinya ternyata langsung dari dewa Apollo. Apollo pun tak hanya sekedar dewa biasa. Ia memegang keseimbangan alam di tangannya. Jika Apollo mati maka bumi dan seluruh penghuninya juga ikut mati. Cassandra, satu-satunya appolite yang mewarisi darah Apollo. Karena keberadaannya begitu penting untuk kelangsungan semesta, maka Cassandra harus dilindungi setiap saat. Wulf, salah satu yang ditugaskan untuk melindungi Cassandra. Terlebih saat ini Cassandra sedang hamil. Dengan bantuan Kat, pengawal Cassandra yang lain, Wulf membawa Cassandra ke kota bawah tanah Alysa, tempat tinggal para appolite.

Tugas Wulf semakin berat, seisi kota memusuhinya karena ia seorang Dark Hunter. Di sisi lain, Ash mengajaknya dan para Dark Hunter lain untuk memerangi Stryker yang hendak menghabisi Cassandra dan bayinya. Tersembunyi jauh di dalam tanah, Cassandra mulai menghitung waktu yang dimilikinya untuk hidup. Karena tak lama lagi usianya akan menginjak angka dua puluh tujuh, dimana semua appolite meninggal secara perlahan dan menyakitkan pada usia tersebut.

^^^^^^^^

Buku ke 5 dari serial Dark Hunter. Cerita disini agak sedikit berbeda dari serial Dark Hunter yang lain. Apalagi kalau bukan heroine-nya seorang musuh besar Dark Hunter. Masa lalu Wulf sebagai manusia pun tak banyak dibahas disini. Selain itu, jika biasanya heroine yang menolong hero, maka dibuku ini hero-lah yang mencari cara agar heroine tetap hidup. Aksi membasmi para appolite pun tak terlalu banyak disini, hanya ada satu diawal dan satu diakhir. Bisa dibilang buku ini lebih banyak romansanya daripada aksinya.

Tentang cover... meskipun saya suka warna biru dan ungu yang menjadi covernya tapi entah kenapa agak kurang sreg gitu....

Judul Saduran : Kecupan Malam
Penulis : Sherrilyn Kenyon
Penerbit : Dastan Books
Halaman : 456
Serial : Dark Hunter #4
Kategoei : Paranormal Romance
ISBN : 9786029267303
Rating : 3 dari 5 smileys untuk Wulf, Dark Hunter yang terlupakan manusia


Tuesday, 7 August 2012

#51 Memori by Windry Ramadhina


"Untuk mereka yang merindukan rumah-tempat berbagi cinta, kenangan, dan tawa yang tidak pernah pudar."

Hhhmmm.... Kalimat pembuka yang langsung (meminjam istilah seorang teman) menusuk jantung tembus ke hati saya. Adalah salah besar ketika saya membaca buku ini dalam bulan puasa dan berharap bisa berkumpul bersama keluarga untuk setidaknya sekali saja berbuka puasa dan sahur bersama. Buku ini kembali membuat saya terpaksa gigit jari karena keinginan itu hanya akan menjadi harapan yang tak terwujud. Baiklah... lupakan tentang saya, karena buku ini berbicara bukan tentang saya melainkan tentang Mahoni.

Nun jauh di Amerika Serikat sono, tepatnya di kota Virginia, Mahoni hidup sendiri dan berusaha mengejar mimpinya menjadi seorang arsitek terkenal sekaligus melarikan diri dari segala hal yang berhubungan dengan cinta dan keluarga di Indonesia.

Mahoni, yang namanya diambil dari nama salah satu jenis kayu, besar dalam drama yang dibangun sang ibu, Mae. Sebagai seorang pengarang sekaligus drama queen, Mae sukses menanamkan rasa benci pada diri Mahoni terhadap Papa dan Grace, istri baru Papa yang dianggap Mae merebut semua kebahagiaannya. Begitu bencinya Mahoni pada Papa, hingga ia tak sudi untuk mengenal adik barunya dan pergi dari kehidupan Papa tanpa kabar apa pun. Hingga hari itu, Mahoni mendapat kabar kalau Papa dan Grace meninggal. Mahoni harus secepatnya balik ke Indonesia.

Kepulangan itu ternyata tak semudah yang Mahoni bayangkan. Kebencian yang dirasakannya kepada Papa membuat Mahoni sulit untuk kembali datang ke rumah masa kecilnya. Kepulangan yang awalnya hanya direncanakan dua hari berubah total. Ada Sigi, adik yang tak pernah dianggapnya sebagai adik, kini menjadi yatim piatu. Tak ada yang dapat menjadi walinya kecuali Mahoni. Kebencian Mahoni berlipat ganda selain karena ia anak hasil hubungan Papa dengan Grace, juga karena Sigi menghancurkan mimpi Mahoni. Sigi, yang berarti Damar dalam bahasa Sumatera, adalah jenis kayu favorit Papa.

Kepulangan itu tak hanya membawa Mahoni mengenal Sigi, tapi juga pada Simon. Laki-laki yang dulu sempat menawarkan Mahoni untuk sama-sama melanjutkan mimpi ke negeri Belanda selepas kuliah, namun ditolak mentah-mentah Mahoni. Toh sesuai ajaran Mae, laki-laki hanya memanfaatkanmu lantas mencampakkanmu ketika ia tak butuh lagi.

"Sebaliknya, kau bisa mewujudkan impian seseorang dengan kompromi. Itu sesuatu yang kita lakukan setiap saat tanpa sadar. Di rumah. Dengan keluarga kita."

Bibirku membentuk senyum masam. Aku tahu, tetapi "Aku tidak punya keluarga, ingat?"

Doh.... rasanya pengen jitak kepala Mae, dan menenggelamkan dia ke dasar laut. Sosoknya terlalu egois untuk menjadi seorang ibu. Dengan teganya Mae meracuni pikiran Mahoni sehingga Mahoni begitu benci pada papanya. 

Tokoh yang menarik perhatian saya adalah Sigi. Dengan gaya khas remajanya membuat saya suka melihat ketegaran dia setelah kedua orangtuanya meninggal secara mendadak dan terpaksa harus hidup dibawah asuhan kakak yang tak dikenal tapi juga amat sangat membencinya. Kalau untuk Simon sendiri sih, saya senang pada penulis yang tak membentuk sosok hero ala Rangga di AADC. Cukup sinis tapi tidak dingin pada lawan jenis.

Dengan latar belakang dunia arsitek yang ditekuni sang penulis, buku ini cukup banyak mengupas tentang dunia arsitek meski hanya sekedar mengambil nama-nama arsitek, aliran-aliran yang ada, tapi dengan penjelasan yang minim sekali. Sehingga bagi para pembaca yang awam terhadap dunia arsitek (termasuk saya) hanya menjadi penghias cerita. Tapi perkenalan pertama saya dengan karya Windry Ramadhina, tidak mengecewakan sehingga saya berniat untuk lanjut membaca karyanya.

Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 312 halaman
Kategori : Contemporary Romance
ISBN : 9789797805623
Rating : 4 dari 5 smileys untuk Mahoni yang telah berhasil menemukan kembali rumahnya


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...