Thursday, 17 October 2013

#110 Freeing Carter by Nyrae Dawn

Penulis : Nyrae Dawn
Penerbit : Nyrae Dawn, July 2012
Tebal : 155 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 2940014968607

Carter Shaw remaja 17 tahun yang masih sekolah. Seharusnya di umurnya yang baru 17 tahun itu yang ada dalam pikiran Carter hanyalah sekolah, pacar dan basket. Tapi Carter punya hal lain yang lebih penting dari itu semua. Ibu alkoholik, adik penderita Down's Syndrome sehingga tak bisa dibiarkan sendirian, dan kakek dari pihak ibunya yang selalu saha menghina sang ibu sehingga ibunya depresi dan lari ke alkohol. Oh... tambahkan juga kalau Carter harus bekerja membantu ibunya di toko mereka, meski itu tak menjadi masalah buatnya. Semua itu selalu membuat Carter insomnia dan akibatnya mengantuk di setiap jam pelajaran di sekolah.

Di sekolah masalah tetap ada. Pacarnya yang seorang cherleader punya hobi tebar pesona dan menggoda cowok disana-sini. Jadwal latihan basket yang padat, tugas esai bahasa Inggris yang gila-gilaan tentang Shakespeare, dan keharusan double-date karena sahabat karib Carter punya pacar sahabat pacar Carter. Carter menyimpan semua yang dirasakannya. Tidak pernah membagi ceritanya pada siapapun. Termasuk pada Bill, ayah kandung Sara, adiknya.

Tapi pertahanan Carter runtuh ketika bertemu dengan Kira. Gadis manis, spontan, dan punya gaya berpakaian yang berbeda setiap harinya. Kira itu teman di kelas Bahasa Inggris Carter sekaligus pegawai part-time di toko ibu Carter.

****

Entah kenapa saya agak kurang bersimpati pada Carter. Toh, tidak ada salahnya berbagi cerita tentang masalah yang dihadapinya pada orang lain yang bisa dipercaya. Lagi pula yang alikoholik itu ibunya, bukan dia. Dan ada banyak orangtua alkoholik di dunia ini. Mana tahu dengan berbagi cerita Carter bisa mendapatkan solusi untuk ketergantungan ibunya. Carter membuat berat masalah yang sebenarnya tak begitu berat.

Tapi saya suka pada Kira. Terutama pada spontanitas dan ketulusannya pada Sara. Apalagi ketika ia membuat gambar Carter yang sedang bermain basket bersama Barney, tokoh kartun sekaligus boneka kesayangan Sara. Bahkan dia bersedia repot untuk mencari tahu nama Sara agar tak keliru menuliskannya. Dan... saya suka pada covernya. Siluet cewek dan cowoknya cukup sederhana tapi manis.
Sebenarnya buku ini bagus. Namun karena Carter membuat masalah yang dihadapinya terasa begitu berat, pembaca (yang umurnya lebih tua #ehem) merasa biasa saja dan bisa saja berujar "masalah kamu itu bukan apa-apa. Ada yang lebih berat lagi kok." 

Yah... intinya berbagi cerita supaya perasaan plong dan solusi atas masalah yang dihadapi bisa ditemukan.




@ Halmahera
01092013

Thursday, 10 October 2013

#109 Take A Bow by Elizabeth Eulberg

Judul : Take A Bow
Penulis : Elizabeth Eulberg
Penerbit : Point, April 2012
Tebal : 288 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9780545463478


4 orang remaja sedang berjuang demi masa depan masing-masing di New York City High School of the Creative and Performing Arts atau yang biasa dikenal dengan CPA.

Sophie Jenkins : si penyanyi ambisius. Selama ini ia berhasil menjuarai berbagai kompetisi menyanyi bersama Emme, sahabat sekaligus pencipta lagu yang khusus dinyanyikan oleh Sophie. Tapi sebenarnya Sophie adalah tipe manusia egois. Ia hanya mendekati Emme ketika ia butuh lagu untuk dinyanyikannya dalam sebuah kompetisi. Dan demi memuluskan jalan menjadi penyanyi terkenal, Sophie berpacaran dengan Carter, mantan artis cilik yang masih jadi incaran para paparazi.

Carter Harrison : si mantan artis cilik terkenal. Saking terkenalnya Carter, pada usia 8 tahun ia sudah diundang ke acara bergengsi seperti Oscar. Kini Carter hanya membintangi sebuah opera sabun. Di CPA ia mendalami kelas akting. Suatu kewajaran karena ia seorang aktor. 

Perbincangan singkat Carter dengan Emme menyadarkannya jika selama ini ia tak menikmati dunia akting. Meski ia tak menampik nominal uang yang semakin bertambah di rekeningnya berasal dari kegiatannya berakting. Ia punya ketertarikan besar pada seni lukis. Dan menjelang tahun terakhirnya di CPA Carter mempertimbangkan untuk pindah ke kelas seni lukis atau berhenti total dari CPA.

"I feel myself exhale. Mr. Samuels continues to give me advice and I automatically write down notes, but one thought goes through my mind: I am, once and for all, on the right track."

Ethan Quinn : si pemusik labil. Dibalik kelabilannya itu ia punya kemampuan memainkan berbagai macam instrumen alat musik. Bersama Emme, Jack Coombs, dan Benjamin McWilliams mereka membentuk band bernama Teenage Kicks yang cukup tersohor dikalangan murid-murid CPA. Dalam band tersebut Ethan didaulat menjadi lead vocal meski sebenarnya ia tak pernah setuju dengan keputusan itu. Karena tampil di muka umum selalu membuatnya gugup dan tak mampu berinteraksi dengan penonton.

Sayangnya bila menghadapi masalah Ethan selalu menjadikan alkohol sebagai pelariannya. Termasuk ketika satu-satunya cewek yang ditaksirnya malah jadian dengan orang lain. Itu sih salahnya Ethan. Dia tak pernah berani mengungkapkan perasaannya pada cewek tersebut.

"She turn around and accidentally drops one of her guitars. I pick it up.

'Here, give me that as well." I take her backpack. "Are you trying to hurt yourself?'

She smiles at me ... and my heart melts. Everytime."

Emme Connelly : si penulis lagu. Emme cewek berambut merah yang naif dan polos. Meski sadar dirinya dimanfaatkan oleh sahabatnya Sophie, Emme tak bisa memungkiri jika tanpa Sophie ia takkan pernah masuk CPA dan bertemu dengan Jack, Ben, dan Ethan dan membentuk Teenage Kicks. Teenage Kicks adalah adalah satu hal paling hebat dalam hidupnya. Walaupun ketiga anggota band itu memperlakukannya tak lebih dari seorang adik yang harus dijaga dari apapun.

"All three of them look at me. 'What's Wednesday?' Jack's got one eyebrow raised.

'I have plans.'

Jack scoffs. 'Plans? With who?'

'Am I not allowed to have plans that don't involve you guys?'

'No,' they say in unison."

Semuanya berusaha. Saling bersaing agar dapat tampil dalam acara penyambutan murid baru dalam tahun akhir mereka sebagai senior. Acara penyambutan itu biasanya berpengaruh pada siapa saja yang berhak tampil pada acara akhir jelang kelulusan mereka. Senior Prom.

Persaingan itu tak hanya tentang menampilkan seluruh bakat dan kemampuan serta ilmu yang telah mereka dapatkan sepanjang masa sekolah, tapi juga tentang menemukan siapa teman sejati sebenarnya dan juga menemukan keberanian. Keberanian menngeksplorasikan diri lebih dalam lagi dan agar berani keluar dari comfort zone selama ini.

***

Jadi buku ini cuma bicara tentang tahun terakhir keempat orang murid CPA dengan segala persaingan mereka? Ya jelas tidak. Ada cerita cintanya juga. Siapa lagi kalau bukan tentang Ethan dan cewek yang ditaksirnya sejak hari pertama mereka sekolah. Padahal Ethan sudah cukup dekat dengan cewek itu. Tapi tetap saja... dia tak punya keberanian buat mengungkapkan perasaannya >.< Meski pada akhirnya dia mengungkapkan perasaannya lewat lagu yang ia nyanyikan bersama anggota bandnya.

"You're the only thing that matters in my life."

"All that I've done is for you."

"The biggest piece, the biggest part."

"The one person who controls my heart"

"If I could kiss away your pain, I would"

"If I could hold you every night, I would"

"If I could erase every mistake, every other face"

"I wouldn't change a thing"

"Because all those things led me to this place and to you"

Dengan PoV dari keempat tokoh membuat alur ceritanya menjadi lebih cepat karena tanpa pengulangan cerita dari masing-masing tokoh terhadap suatu kejadian atau keadaan. Ceritanya ringan, khas remaja tapi juga berbobot. Sungguh, sebuah novel YA yang pantas untuk dibaca.





@ Halmahera
15082013




Friday, 4 October 2013

#108 Tall, Dark, and Dangerous #11 - Night Watch by Suzanne Brockmann

Judul : Night Watch 
Serial : Tall, Dark & Dangerous #11
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Harlequin Books, Juni 2011
Tebal : 384 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781459205352


Wes Skelly, anggota Navy SEALs sobat renang Bobby Taylor kali ini punya urusan di L.A. Dia akan membantu adik teman-tapi-ngarep-jadi-pacar Lana Quinn yang saat ini telah menikah dengan anggota Navy SEALs yang berbeda tim dengan Wes. Adik Lana seorang artis terkenal dan saat ini ia merasa terganggu karena seorang penggemarnya mulai bertingkah kelewatan. 

Itu misi pertama Wes. Misi keduanya adalah dia bakal menjalani blind-date dengan Brittany Evans, ipar Cowboy Jones, anggota Navy SEALs teman satu timnya. Brit seorang perawat dengan status janda anak satu. Iya, anaknya Andi yang dulu sempat bermasalah sewaktu Cowboy dalam masa pendekatan dengan Melody, adik Brit.

Brit sebenarnya sudah jera menjalin hubungan dengan laki-laki karena perceraiannya dulu. Terlebih saat ini ia harus fokus mengumpulkan uang untuk biaya kuliah Andy dan dirinya sendiri. Andy akan lulus SMU dan Brit berencana untuk ikut kuliah agar tak terlalu jauh dari Andy. Andy sendiri tak keberatan dengan rencana itu. Malah ia senang dengan pemikiran ibunya tak terlalu jauh darinya.

Sejak pertemuan pertama dengan Brit, Wes sudah mengatakan kalau ia sebenarnya tak berminat menjalin sebuah hubungannya. Masih ngarep Lana sih.. Dan Brit pun setuju. Sebagai teman baru yang berniat baik, Brit menawarkan rumahnya untuk ditinggali Wes selama di L.A. agar biaya hidup Wes tak terlalu mahal akibat harus tinggal di hotel.

Wes menerima usul Brit. Terlebih adiknya Lana mulai gencar mendekatinya dan Wes merasa risih. Si artis muda itu sepertinya ingin menjalin hubungan dengan bodyguardnya. Apalagi Wes ganteng dan bodynya yahud. Untuik menghindari hal itu Wes meminta Brit untuk pura-pura menjadi tunangannya agar tak diganggu lagi oleh si artis. 

***

Mulai dari buku pertama tentang Joe Cat hingga tentang Bobby, Wes selalu digambarkan sebagai anggota Navy SEALs bermulut besar, tempramen, dan bila berada di dekat Bobby maka ia akan kelihatan pendek. Pokoknya Wes ini gak banget deh jadi cowok.

Tapi di buku ini kelihatan siapa Wes sebenarnya. Anggota Navy SEALs yang penuh dedikasi pada pekerjaannya dan bisa bersikap lembut pada siapa saja. Apalagi nelihat bagaimana interaksi Wes dengan Andy, dan bagaimana cepatnya Wes bereaksi saat Andy butuh bantuan. Untuk porsi romance dan actionnya, sisi romance jauh lebih banyak dari actionnya.

Seperti halnya Taylor's Temptation, buku ini pun belum (atau tidak?) diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Padahal sebagai serial penutup cerita Wes terbilang bagus meski saya tak suka pada endingnya. Tidak ditutup oleh adegan atau rencana pernikahan. Bicara cover sih, bagi saya tampilannya biasa saja meski ada beberapa orang yang menganggapnya seksi. Seksi gara-gara si model cowok shirtless? (-_-") Dari 16 edisi yang tercantum di goodreads, favorit saya yang terbitan Silhouette Books pada 2003 dengan judul pada covernya bukan "Night Watch" melainkan "Wild Wild Wes."



@ Halmahera
15092013

Thursday, 26 September 2013

#107 Tall, Dark, and Dangerous #10 - Taylor's Temptation by Suzanne Brockmann

Serial : Tall, Dark & Dangerous #10
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Harlequin, Desember 2009 (terbit pertama kali pada July 2001)
Tebal : 256 halaman (ebook)
ISBN : 9781426851032


Robert "Bobby" Taylor punya tugas berat. Bukan tugas untuk terjun di suatu medan berat penuh teroris dan menyelamatkan sesuatu atau seseorang. Tapi tugas ini permintaan dari "saudara kembar beda ibu" sekaligus sobat renangnya Wes Skelly. Wes meminta Bobby unruk menasehati adiknya Colleen Skelly supaya tidak pergi ke Tulgeria.

Colleen, mahasiswi fakultas hukum yang punya kerjaan sampingan menjadi relawan kemanusiaan. Saat ini ia berencana pergi ke Tulgeria. Wes dan Bobby mati-matian berusaha melarang Colleen pergi ke sana. Tulgeria bukan sekedar negara yang sedang membutuhkan bantuan kemanusiaan tapi juga penuh dengan teroris yang anti Amerika. Sebagai seorang SEALs Bobby sudah berulang kali keluar masuk negara itu dan ia mengerti bahaya bila Colleen datang kesana. Tapi Colleen yang super duper keras kepala masa bodoh dengan peringatan Wes dan Bobby. Baginya keselamatan anak-anak Tulgeria adalah hal terpenting.

Dalam proses membujuk Colleen untuk membatalkan niatnya, Bobby terjebak cinta lokasi pada adik sahabatnya itu. Sebenarnya bukan cinta lokasi sih, karena sudah bertahun-tahun Bobby jatuh cinta pada Colleen dan sebaliknya. Kesempatan untuk berduaan jauh dari Wes hadir dan mereka tak bisa untuk saling menolak satu sama lain.

Jelas Wes marah luar biasa saat ia tahu Bobby bersama adiknya. Bahkan mereka sempat ribut di bandara ketika Wes menjemput Bobby sehingga mereka harus dilerai oleh hampir seluruh anggota Alpha Squad. Wes minta supaya Bobby menikahi Colleen. Tapi Colleen punya keputusan sendiri. Ia menolak untuk menikahi Bobby.


***

Akhirnya.... setelah bertahun-tahun penasaran akan kisah Bobby dan Wes saya bisa juga membaca kisah mereka. Soalnya cerita Bobby dan Wes tidak (atau belum?) diterjemahkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sementara semua seri pendahulu mereka berdua, telah diterjemahkan oleh GPU.

Tapi saya agak sedikit kecewa sih membaca kisah Bobby. Saya berharap Bobby punya kisah heroik dan bertemu dengan heroine yang lebih dari sekedar Colleen. Saya mengerti Colleen itu ingin menyelamatkan anak-anak Tulgeria, tapi mengapa Colleen sama sekali tak mau mendengar apa kata Bobby dan Wes, orang yang telah berpengalaman terhadap situasi negara tersebut. Minimal penuturan Bobby dan Wes bisa membuatnya melakukan persiapan yang lebih matang dan terencana lagi.

Meski sedikit kecewa tapi saya senang akhirnya bisa bertemu dengan Bobby dan... bersua kembali dengan para jagoan Navy seperti Lucky, Harvard, Blue dan Crash!




@ Halmahera
24082013

Friday, 20 September 2013

#106 Tall, Dark, and Dangerous #5 - Harvard's Education by Suzanne Brockmann

Judul : Harvard's Education
Serial : Tall, Dark & Dangerous #5
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Silhouette Books, September 2007 (terbit pertama pada Oktober 1998)
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781426806148


Team Ten Alpha Squad Navy SEALs kali ini punya tugas tak biasa. Melatih para agen FinCOM yang biasa bertugas mengamankan para orang-orang penting di pemerintahan, tamu kenegaraan, presiden dan wakilnya beserta keluarga mereka. Pelatihan itu tentang terorisme, penyelamatan sandera serta segala hal yang diperlukan untuk pengamanan orang-orang penting itu. Tim FinCOM yang biasa dipanggil "fink" oleh para Navy SEALs terdiri dari tiga pria dan satu wanita. Sejak awal Daryl "Harvard" Becker, chief Alpha Squad sudah punya perhatian pada cewek itu.

P.J. Richard namanya. Selain karena hanya cewek sendiri dalam pelatihan itu, Harvard menaruh perhatian padanya karena sesama Afro Amerika dan lebih pentinga karena kemampuannya melebihi tiga orang agen lainnya. Bahkan untuk kemampuan menembak jitunya. Tak hanya Harvard yang  menyadari kemampuan itu tapi juga Joe Cat dan Blue. Di Navy SEALs sendiri kehadiran perempuan cukup langka. Sehingga berinteraksi dengan P.J. pada pelatihan kali ini cukup terasa berbeda bagi mereka.

Perhatian Harvard diartikan lain oleh P.J.. Ia menganggap Harvard memandangnya sebagai perempuan lemah yang tak pantas mengikuti latihan berat yang biasa dijalani para Navy SEALs yang anggotanya cowok semua. Sehingga ia berusaha mati-matian membuktikan dirinya pantas berdiri sejajar dengan ketiga anggota FinCOM lainnya.

Kelar pelatihan di dalam negeri, mereka pindah latihan  di luar Amerika Serikat. Tapi team Navy SEALs dan FinCOM justru terjebak dalam pelatihan yang berubah menjadi perang diantara dua kelompok pengedar obat bius. Joe Cat tertembak. Lucky dan dua naggota FinCOM terjebak di arena musuh. Blue dan Crah terjebakdi kapal. Mereka tak bisa meminta bantuan. Hanya P.J. dan Harvard yang bisa menolong mereka. Menyelinap ke area musuh, dan membebaskan Joe Cat serta yang lain. Ini saatnya P.J. membuktikan pada Harvard jika ia bukan cewek lemah seperti yang disangka cowok plontos lulusan Harvard tersebut.


***

Suka. Suka. Suka. Saya suka pada cerita Harvard. Romancenya dapat, actionnya juga. Saya juga suka pada interaksi Harvard dan anggota keluarganya. Hangat banget. Nggak nyangka aja Harvard yang kuat, kokoh, dan tegas itu bisa tersipu-sipu malu mendengar ucapan ibunya tentang ia dan P.J..

P.J. jadi idola saya di buku ini. Kuat dan pantang menyerah serta tidak takut pada dominasi laki-laki. Hebat dong. Tentang covernya, yang terbayang di benak saya malah cerita horor atau mungkin fantasi gitu. Cewek cowok di hutan gelap gulita mencari jalan keluar. Saya lebih suka pada cover terbitan Gramedia Pustaka Utama. Bodynya six pack ;p

Btw, ini buku kedua yang reviewnya saya kerjakan ketika disela-sela rapat hari kedua. Sewaktu rapat hari pertama saya mengerjakan review Get Lucky, baca reviewnya disini. Benar-benar produktif saya ini. Rapat sambil mengerjakan review *dikeplak laptop sama si bos*



@ Tidore
29082013

Friday, 13 September 2013

#105 Tall, Dark, and Dangerous #4 - Everyday, Average Jones by Suzanne Brockmann

Judul : Everyday, Average Jones
Serial : Tall, Dark & Dangerous #4
Penulis : Suzanne Brockmann
Penerbit : Silhouette Books, Agustus 2007 (terbit pertama 1998)
Tebal : 256 halaman (ebook)
Genre : Romantic Suspense
ISBN : 9781426804878


Pada penugasannya kali ini anggota US Navy SEALs Harlan "Cowboy" Jones harus membebaskan sandera warga Amerika Serikat yang diculik teroris.Pembebasan itu berhasil gemilang dengan menyisakan kedekatan Cowboy degan sang sandera, Melody Evans. Satu-satunya sandera perempuan dari tiga orang sandera yang diculik.

Kedekatan itu berlanjut hingga Melody diantar pulang ke Amerika Serikat. Cowboy pun kembali ke penugasannya ke suatu tempat misterius. Kedekatan di masa pembebasan itu membawa cerita baru bagi Melody. Ia hamil. Ketika Cowboy mengetahui hal tersebut ia bertanggung jawab atas perilakunya.

Tapi Melody menolak mentah-mentah tanggung jawab Cowboy. Menurutnya ia mencari suami yang tidak membuatnya khawatir setiap pergi tugas. Yang tidak membuatnya selalu bertanya-tanya apakah suaminya akan pulang dalam keadaan selamat atau malah terbujur kaku dalam peti mati. Melody ingin suami yang biasa saja. Yang pekerjan kantoran. Dengan bahaya yang dihadapi hanya luka tergores pinggiran kertas. 

Setiap kunjungan Cowboy ditolak mentah-mentah oleh Melody. Dengan tindakan tersebut ia berharap Cowboy akan jera dan mundur. Tapi Melody lupa. Cowboy seorang anggota Navy SEALs. Tangguh dan pantang menyerah sudah menjadi prosedur standar baginya. Meski ditolak oleh Melody, Cowboy tetap keukeuh. Bahkan hingga berkemah di halaman belakang rumah Melody.


***

Oke... bukunya memang tak sesuai dengan adat ketimuran masyarakat Indonesia. Marriage by accident. Dan menolak pertanggung jawaban dari yang berbuat. Tapi di titik inilah (menurut saya) kedewasaan dan toleransi pembaca diuji. Ada yang menolak bahkan menganggap menjijikan perilaku Melody. Ada yang bersikap biasa saja. Tak dipungkiri juga ada yang setuju dengan tindakan Melody. Well... apa pun itu yang tak boleh dilakukan adalah penghakiman sepihak terhadap orang yang memilih untuk setuju/tidak setuju tindakan yang dilakukan Melody. Toh, menerima tindakan Melody bukan berarti setuju dengan tindakannya. Ingat saja prinsip, elu ya elu, gue ya gue. Ok?

Balik ke soal ceritanya.  Saya sih gak suka banget dengan insta-love yang terjadi di buku ini. Bisa saja sih insta-love itu terjadi dengan memakai sindrom sandera-hero. Si sandera yang jatuh cinta pada penyelamatnya, vice versa. Tapi saya sendiri kurang bisa menerima konsep insta-love tersebut. Belum lagi Melody dengan gaya "jual mahal tapi ngarep" yang bikin sebel. Dibandingkan dengan cerita Ronnie, Lucy, dan Mia, Melody tak cukup pantas untuk disejajarkan dengan mereka. Mengingat ketiga perempuan itu tipe perempuan tegar dan pantang menyerah.

Tapi saya suka pada kegigihan Cowboy mengejar Melody dan caranya menghadapi Andy, keponakan Melody, anak kakaknya. Aksi Navy SEALs kurang terasa dibuku ini. Karena disini Cowboy lebih banyak mengambil cuti darat daripada turun ke lapangan demi mendekati Melody.




@ Halmahera
21082013

Sunday, 8 September 2013

#104 The Rocker #3 - The Rocker That Needs Me by Terri Anne Browning

Judul : The Rocker That Needs Me
Serial : The Rocker #3
Penulis : Terri Anne Browning
Penerbit : Anne Henson, Juli 2013
Tebal : - (data tidak tercantum di Goodreads)
Genre : Contemporary Romance, Erotica
ASIN : B00DSDPTTI
The Demon…

I’ve been fighting my own demons for most of my life. The alcohol seems to numb the pain, but it never makes the nightmares go away. All I want in life is a little peace. When I met my angel it felt like I found it, but there is so much standing between us. Why does she have to be so young…?

The Demon’s Angel…

Meeting Drake was the best thing to ever happen to me. I found my friend, my soul mate. But he lets my age stand between us. There is something that haunts him, and I selfishly want to be the one that helps him conquer his ghosts. If he would just let me in, let me closer, I think I could help him…
 
Oke.... Seperti dua pendahulunya tentang Nik dan Jesse, maka buku ini pun tidak sesuai untuk usia < 18 tahun.  Jadi tolong kembali ke awal jika usiamu memang belum cukup pantas walau hanya untuk membaca reviewnya.

Dibuku kedua sudah sedikit disinggung tentang Drake. Iya Drake dan Lana. Yang saya bilang hubungan mereka kayak om-om dengan remaja itu ._.

Kisah mereka berlanjut bahkan lebih kompleks di buku ketiga ini. Sekarang Drake sudah lebih santai, tenang, dan mulai menekuni kembali hobi melukisnya yang dulu sempat ia tinggalkan. Semua perubahan itu adalah dampak dari kedekatannya dengan Lana. Layla, kakak Lana pun akhirnya mengikhlaskan kedekatan mereka karena dampak positif Lana pada Drake.

Satu malam Drake dan Lana tidur bareng. Parahnya di pagi hari setelah kejadian itu Drake sama sekali tak ingat apa yang terjadi tadi malam. Lana patah hati dan memutuskan untuk pindah ke New York untuk melupakan sakit hatinya. Iya Lana butuh suasana dan kota baru supaya bisa move on dari Drake *enak bener* *patah hati aja mulu biar pindah mulu* *lama-lama bisa keliling dunia karena patah hati*

Drake stress berat!! Dia mulai kembali mabuk-mabukan hingga akhirmya harus direhabilitasi. Pasca rehabilitasi itu, The Demon's Wings mendapat tawaran untuk menjadi salah satu juri pada ajang pencarian bakat. Nik dan Jesse menolak mentah-mentah tawaran itu *gengsi dong* *masa rocker jadi juri gituan* *dikeplak* Tapi Drake langsung menyambar tawaran itu. Apalagi kalau bukan karena ajang pencarian bakat itu diadakan di New York, tempat Lana berada.

New York mempertemukan mereka kembali. Dan kejadian yang dulu pun terulang kembali. Tapi kali ini Lana tak bisa lari. Semua anggota Demon's Wings termasuk Em, Layla, Lucy dan Mia ikut turun ke New York membantu dua sejoli itu menyelesaikan masalahnya. Ternyata masalah kali ini jauh lebih rumit dari yang lalu.
***
Kali ini gregetan yang terasa  di dua buku sebelumnya terasa kurang. Saya kurang menikmati cerita Drake dan Lana. Drake yang sudah dewasa, banyak makan asam garam kehidupan mendadak berubah seperti remaja, galau dan lari ke alkohol gara-gara ditinggal Lana. Lana sibuk sehingga gak bisa ketemu dengannya, Drake langsung galau. Pokoknya Drake kayak remaja banget deh. Gampang bangt galaunya. Saya malah lebih penasaran pada cerita Shane. Iya. Dibuku berikutnya *katanya* tentang Shane  \(^_^)/
 Bicara tentang PoV yang diambil dari dua sudut pandang sebenarnya sudah cukup baik. Namun sayangnya selalu terjadi pengulangan cerita yang ujung-ujungnya terasa membosankan :| Untuk adegan ihik-uhuk-ehemnya kadar dibuku ini jauh lebih banyak dari dua buku sebelumnya.

Tentang covernya.... hhhhmmm... covernya juga kurang menarik bagi saya meski lebih membuat kipas-kipas yang melihatnya. Tidak ada chemistry diantara kedua modelnya. Parahnya melihat cover buku ini saya malah langsung terbayang pada kalimat "habis manis sepah dibuang" #iykwim






@Halmahera
21082013

Saturday, 7 September 2013

#103 Keep Holding On by Susane Colasanti

Penulis : Susane Colasanti
Penerbit : Viking Children's, May 2012
Tebal : 224 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9781101571408


Pernahkah kamu merasa ketika membaca review tentang suatu buku, lalu memutuskan untuk membaca buku tersebut dan... ketika tidak menikmati buku tersebut kamu merasa ada yang salah dengan dirimu?

Saya merasakannya pada buku ini. Saya membuka buku ini dengan ekspektasi tinggi karena buku ini mengangkat tema tentang bullying pada remaja dan karena covernya yang manis. Remaja banget!

Heroine kita bernama Noelle Wexler. Dia dan ibunya tinggal di apartemen sederhana sejak pacar ibunya meninggal dunia dan tidak memberikan peninggalan apapun meski selama ini mereka telah tinggal bareng. Keadaan mereka saat ini sangat kekurangan. Akibatnya di SMU tempat Noelle sekolah ia di-bullying oleh seluruh murid disana. 

Seluruh sekolah menertawakan makan siangnya yang hanya terdiri dari air dan sepotong sandwich berisi daun selada. Mereka menggosipkan sepatu ketsnya yang dipenuhi coretan lyric-lyirc lagu yang dibuat Noelle untuk menutupi lubang disepatunya. Bahkan Matt yang mengaku sayang padanya tidak bersedia tampil dimuka umum sebagai bentuk deklarasi kalau mereka pacaran.


***

Saya bisa mengerti bagaimana seseorang bisa di-bullying hanya karena status ekonominya. Well.. saya mengenal seseorang yang di SMUnya jika ada siswa yang memberikan uang duka selain uang Rp.50.000 atau Rp.100.000 maka siswa tersebut akan ditertawakan seisi kelas dan jadi bahan pembicaraan seisi sekolah. Sehingga teman saya ini selalu berusaha memberi uang duka seperti teman-temannya yang lain meski untuk itu ia harus berpuasa selama beberapa hari karena uang jajannya habis untuk uang duka.

Saya juga bersimpati pada keadaan Noelle. Mengerti bagaimana sakitnya dikucilkan dan diejek. Apalagi ibu Noelle pernah berkata sewaktu Noelle berumur 13 tahun kalau hidup si ibu dirusak total oleh kehadiran/lahirnya Noelle. Apaalagi dirumah si ibu tak pernah memasak untuk Noelle. Ia hanya menyediakan fast food atau makanan beku yang mengakibatkan Noelle mengalami malnutrisi. Ia juga tak pernah sekalipun berbicara pada Noell tentang kehidupan sekolahnya.

Tapi simpati saya berhenti sampai disitu. Sejak halaman awal Noelle dikatakan ingin sekali meninggalkan kota kecilnya karena ia benci hidup disana. Bukannya berjuang agar bisa keluar dari sana, Noelle lebih suka bersikap mengasihi dirinya sendiri, cemburu pada setiap cewek-cewek disekolahnya yang punya barang-barang indah, dan tak punya semangat hidup. Hampir 3/4 isi buku ini isinya Noelle yang sibuk mengasihi dirinya sendiri. 

Hhhhmmm.. apa ya bilangnya. Biasanya orang punya sesuatu yang bisa ia lakukan supaya dia punya tiket untuk keluar dari suatu hal yang dibencinya. Misal berprestasi pada suatu bidang studi atau dibidang lainnya. Noelle jago nulis. Tapi Noelle tidak peduli dengan kemampuannya itu. Dia malah sibuk memperhatikan penampilannya dan... dia menolak kupon gratis makan siang supaya tidak dianggap lebih rendah oleh seisi sekolah. Seharusnya dia berpikir kalau perut yang terisi penuh meski diejek itu jauh lebih menyenangkan dari pada bersikap tinggi hati tapi perutnya kelaparan setiap saat dan tetap juga jadi bahan ejekan.


"I notice Darby's wearing the same shirts I got at the mall a few months ago. Which throws me off all over again. I'm not not used to seeing anyone wear the same clothes I do."

Padahal Noelle punya alasan yang bisa membuatnya semangat. Minimal semangat itu bisa datang dari Sherae sahabatnya yang anak orang kaya yang punya ibu yang selalu saja welcome pada Noelle. Lalu ada Julian Porter. Cowok biasa saja, tidak terlalu populer, teman sebangkunya di kelas Bahasa Spanyol yang sangat perhatian padanya. Diam-diam Julian juga naksir pada Noelle. Tapi Noelle beranggapan kalau dia tak cukup pantas buat Julian.

Ada juga Simon, cowok redaktur majalah sastra di sekolah mereka. Simon selalu menyediakan makan siang untuk seluruh tim majalah tersebut meski sebenarnya tujuan utama Simon adalah Noelle karena Simon tahu Noelle tak pernah cukup makan di rumah, selalu kelaparan, dan malu berada di kantin sekolah dengan kupon makan siang gratisnya. Seandainya saja Noelle tidak sibuk mengasihi dirinya sendiri dia akan tahu kalau dia punya kelebihan. Guru sastra sering memuji dan membicarakan hasil karyanya. Dan mungkin jika tak terlalu terfokus pada diri sendiri ia bisa membantu Ali agar tak terlalu depresi hingga akhirnya bunuh diri.

PoV buku ini dibuat dari sudut pandang Noelle. Mungkin jika dibuat dengan beragam PoV atau minimal dari PoV heroine dan hero-nya pasti karakter Noelle dan Julian lebih terbangun. Dan pembaca bisa tahu sosok Noelle dari sudut pandang orang lain. Karena saya sendiri amat sangat penasaran pada tampilan baru Noelle setelah ia memotong rambutnya di salon mahal dengan meminjam uang Sherae. Menurut Noelle rambut barunya membuatnya makin berantakan dan semua orang bengong melihat rambutnya.

Menurut penulisnya dia menulis buku ini berdasarkan pengalamannya di-bullying sewaktu jaman sekolah dulu. Dan dia ingin membagi pengalamannya kepada remaja-remaja yang lain jika hidup itu tak hanya sebatas SMU dan ada hal yang jauh lebih penting dari tampilan diri. Tapi seperti yang saya katakan, saya bersimpati pada kondisi Noelle tapi lebih dari sekedar simpati. Ia harus belajar untuk kuat, bertahan dengan kehidupan SMU yang tak disukainya, dan pada akhirnya semua akan berlalu juga.

Yah... jika ingin diberi point maka 1 point untuk covernya yang manis yang membuat saya ingin mengoleksi buku ini. Covernya khas YA banget. Dan saya bayangkan penampilan baru Noelle seperti yang ada cover lengkap dengan pita rambutnya. 1 point untuk Sherae, sahabat setia yang bahkan bersedia mengajarkan Noelle menggunakan laundry dirumahnya agar Noelle bisa mencuci baju sendiri karena ia tak tahu bagaimana cara mencuci baju. Biasanya ibu Noelle yang mencuci baju-baju mereka di laundry langganan mereka namun tiba-tiba ibunya berhenti mencuci baju Noelle dan hanya mencuci bajunya sendiri. 1 point terakhir untuk Simon, dengan kepekaannya yang tinggi membantu memberi Noelle makan siang tanpa mempermalukan Noelle.


"My life is happening right now. And whether it remains a complete disaster or starts getting better is up to me. I can't control everything, but there are some things I can change."

 "We're products of our choices. I can make a choice to do more than just survive. Which is why I'm going to start shaping my life into the one I want."



@Halmahera
170712013

Thursday, 5 September 2013

#102 Pushing The Limits #1 - Pushing The Limits by Katie McGarry

Judul : Pushing The Limits
Serial : Pushing The Limits #1
Penulis : Katie McGarry
Penerbit : MIRA Ink, Agustus 2012
Tebal : 392 halaman (ebook)
Genre : Young Adult
ISBN : 9781408957431


Echo Emerson. Cewek cantik, populer, pintar, jago melukis, punya masa depan cerah terbangun diatas tempat tidur rumah sakit dengan tangan yang penuh luka dan tidak ingat apapun yang telah terjadi pada dirinya yang bisa membuatnya terbaring dirumah sakit. Akibat peristiwa yang sama sekali tak bisa diingatnya itu kini kehidupan Echo disekolah berubah total. Geng populer-nya yang dulu selalu menjadi teman terbaiknya kini menjauh, seisi sekolah menggosip dan menertawakannya, ia pun diharuskan mengikuti berbagai sesi terapi, dan selalu memakai baju lengan panjang untuk menutupi bekas lukanya.

Dirumah keadaan sama parahnya. Ayahnya berselingkuh dengan pengasuhnya, abang sebagai satu-satunya saudara kandung tewas di medan perang, dan Echo pun dilarang untuk menemui ibu kandungnya yang kini telah bercerai dari ayahnya. Iya, sekarang ayah Echo menikah dengan si pengasuh itu. Belum cukup larangan untuk berjumpa dengan ibu kandung, Echo juga dilarang untuk kembali mengikuti pelajaran seni. Menurut sang ayah hal itu berbahaya untuk perkembangan mentalnya. Yang tersisa kini hanya mobil milik Aires, sang kakak yang kondisinya cukup memprihatinkan.



Echo bertekad memperbaiki mobil Aires apalagi ketika ayahnya tak bersedia mengeluarkan uang untuk membatunya. Jalan yang tersisa untuk mendapatkan uang adalah dengan bekerja part time. Ia menerima tawaran Mrs. Collins (school counselor) untuk menjadi tutor murid-murid yang mengalami kesulitan belajar di sekolah mereka. Echo mendapat jatah mengajari siswa bernama Noah Hutchins.

Disisi lain hidup Noah Hutchins juga berubah. Api yang membakar rumahnya hanya menyisakan Noah dan kedua adiknya, Tyler dan Jacob. Orangtua Noah tewas dalam kebakaran itu. Belum lagi hilang perasaan berduka atas kematian orang tuanya, Tyler dan Jacob pun harus diurus oleh keluarga adopsi yang lain. Negara beranggapan jika Noah tak memiliki cukup kompetensi untuk mengurus kedua adiknya yang masih balita dan seumuran anak SD itu. Noah dianggap memiliki sifat tempramen terutama karena ia pernah memukul ayah angkatnya.

Satu-satunya jalan bagi Noah agar bisa merebut hak asuh kedua adiknya yaitu dengan keluar dari rumah orangtua angkat pada umur 18 tahun, mencari pekerjaan dan apartemen yang cukup layak, dan mengajukan diri untuk mengasuh kedua adiknya. Cara itu bisa tercapai kalau nilai-nilaai akademis Noah memuaskan. Sayangnya nilai akademis Noah menggenaskan. Mau tidak mau Noah harus menuruti perkataan Mrs. Collins dan menerima Echo sebagai tutornya.

Sesi belajar itu tak hanya membahas tentang kalkulus. Tapi juga tentang masa lalu mereka. Pada satu titik, pengertian atas trauma yang mereka alami terjalin dan menambah kedekatan mereka.

“It doesn't get better," I said. "The pain. The wounds scab over and you don't always feel like a knife is slashing through you. But when you least expect it, the pain flashes to remind you you'll never be the same.”

***

Sudah banyak buku YA yang mengangkat tema trauma yang dialami tokoh utamanya. Tapi Pushing The Limits tetap punya nilai lebih dibanding yang lain. Apalagi dengan pesan tersirat yang muncul hampir disetiap halaman bukunya.

Berbicara karakter, pendewasaan karakter tokoh-tokohnya dibangun secara bertahap. Tidak dengan tergesa-gesa tetap melalui kejadian-kejadian yang berujung pada pengalaman dan pemahaman yang muncul dikehidupan Noah dan Echo, bukan melalui suatu hal yang terjadi mendadak ataupun ingatan dan ilham yang hadir tiba-tiba.

“Why is it when people are proud of me that my life sucks?”

“Because growing up means making tough choices, and doing the right thing doesn’t necessarily mean doing the thing that feels good.”

Interaksi antara Noah dan kedua adiknya juga dibuat bertahap dan sukses bikin hati saya meleleh. Kenangan-kenangan Noah terhadap orangtuanya memang dimunculkan sedikit-sedikit tapi bisa membuat pembaca mengerti mengapa Noah tak ingin kedua adiknya melupakan sosok orangtua mereka. Hal itu juga membuat pembaca mengerti alasan Tyler memandang Noah sebagai super hero-nya yang bahkan jauh lebih hebat dari Batman.

"I wrote about the person I love the most, my older brother, Noah. We don't live together so I wrote what I imagine he does when we're not together."

And what is that?" prodded the stout man.

"He is a superhero who saves people in danger because he saved me and my brother from dying in a fire a couple of years ago. Noah is better than Batman." The crowd chuckled.

Buku ini akan sempurna jika saja antara Noah dan Echo tidak ada cinta yang instan. Dengan masa lalu mereka ditambah dengan kedekatan emosional seharusnya itu bisa dijadikan kelebihan untuk membuat kisah cinta yang timbul secara perlahan namun memiliki emosi yang kuat.

Tentang covernya, saya lebih suka cover terbitan Harlequin Teen tapi.... dengan tampang cewek di cover yang terbitan MIRA Ink (yang diatas) *ribet amat sih put* Karena menurut saya wajah di cover MIRA Ink lebih cocok "nampak" depresinya #halah

Terlepas dari kekurangannya, Pushing The Limits adalah buku yang punya banyak pesan. Tentang menghargai dan menerima diri sendiri sebelum meminta orang lain untuk menerima kita.  Tentang pentingnya keluarga bagi setiap orang pada setiap jenjang kehidupan. Tentang melihat suatu kejadian tak hanya dari satu sisi sehingga tak muncul penghakiman dan salah duga. Tentang apapun yang terjadi, hidup tidak akan berhenti tapi hidup akan terus berjalan dan entah bagaimana caranya kita harus terap memandang maju ke depan.



@Halmahera
01072013
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...