Tuesday, 19 July 2016

#263 Montase by Windry Ramadhina

Judul : Montase
Sub Judul : -
Serial : -
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : Desember 2012 (pertama kali terbit pada Desember 2012)
Tebal : 368
ISBN : 9789797806057
Genre : Contemporary Romance

Format : paperback
Status : punya sendiri

Blurb : Aku berharap tak pernah bertemu denganmu. Supaya aku tak perlu menginginkanmu, memikarkanmu dalam lamunku. Supaya aku tak mencarimu setiap kali aku rindu.

Supaya aku tak punya alasan untuk mencintaimu. Dan terpuruk ketika akhirnya kau meninggalkanku.

Tapi… kalau aku benar-benar tak pernah bertemu denganmu, mungkin aku tak akan pernah tahu seperti apa rasanya berdua saja denganmu. Menikmati waktu bergulir tanpa terasa. Aku juga tak mungkin bisa tahu seperti apa rasanya sungguh-sungguh mencintai… dan dicintai sosok sakura seperti dirimu.


Review

Rayyi adalah seorang mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Berbeda dengan sang Ayah yang seorang produser yang terkenal akan film dan sinetron yang meledak di pasaran, Rayyi sendiri malah ingin menjauh dari hiruk pikuk dunia sang ayah dan menjadi seorang pembuat film dokumenter. Adalah sang Mama yang mengenalkan Rayyi pada film dokumenter ketika usianya masih begitu belia. Sejak menonton sebuah film dokumenter hitam putih bersama sang mama, Rayyi jatuh cinta pada dunia dokumenter.

Kecintaan pada dokumenter membuat Rayyi mengikuti kompetisi film dokumenter yang diadakan oleh Greenpeace. Dengan sangat yakin Rayyi yakin kalau dirinya pasti bisa memenangkan kompetisi itu. Tapi ternyata pemenang kompetisi itu adalah seorang gadis Jepang bernama Haru Enomoto yang kebetulan sedang mengikuti program pertukaran mahasiswa di IKJ. Film dokumenter Haru bercerita tentang Sakura, bunga pink yang menjadi bunga kebanggaan dan kesayangan gadis itu.

Penasaran akan hasil karya Haru yang dinilainya sebagai film tidak bermutu, Rayyi datang ke Ruang Syuman, tempat film-film Greenpeace diputar. Meski mengakui kemampuan Haru menuangkan cerita menjadi gambar bergerak tapi tetap saja Rayyi merasa kalau Haru itu biasa saja. Apalagi Kurcaci Nippon, sebutan Rayyi untuk Haru, itu begitu kacau. Ia sering tergesa-gesa, menabrak orang, barang atau bahkan tembok, hingga sering salah masuk ke kelas. Padahal Haru sudah berada di IKJ cukup lama, mustahil rasanya ia tidak hapal ruangan-ruangan yang ada di fakultas mereka.

Kecintaan Rayyi pada dokumenter juga yang membuat pemuda itu nekat menyelinap ke kelas Peminatan Dokumenter IV karena pada semester itu seorang pembuat film dokumenter kelas dunia yang akan memberikan kuliah tamu. Siapa lagi kalau bukan Samuel Hardi yang terkenal pelit memberikan pujian dan punya standar kerja yang tinggi. Wajar saja, National Geographic adalah standar lelaki itu. Bahkan di pertemuan kedua Samuel Hardi sudah memberikan tugas pada semua mahasiswa yang mengikuti kelasnya, baik itu mahasiswa yang memang mengambil mata kuliah tersebut ataupun mahasiswa yang menyelinap masuk seperti Rayyi. Dan di kelas itu pula, masih di pertemuan pertama Haru sukses mempermalukan Rayyi, meski ya… itu bukan keinginan Haru.

Tugas yang diberikan Samuel Hardi membuat Rayyi kelimpungan mencari bahan tugasnya. Atas dorongan teman-teman dekatnya Rayyi mengajak Haru untuk menjadi objek rekamannya dan si Kurcaci Nippon itu menyetujuinya. Di luar dugaan film Rayyi yang menjadikan Haru sebagai objeknya ditanggapi positif oleh Samuel Hardi meski lelaki itu tidak menyampaikannya secara langsung. Samuel Hardi “hanya” menayangkan karya Rayyi di layar elektronik di lobi gedung fakultas tempat biasanya karya-karya terbaik di IKJ diputar.

Setelah itu, tanpa bisa dicegah Haru masuk ke dalam lingkungan pergaulan Rayyi. Kalau menurut Sube, salah satu sahabat Rayyi, Haru adalah Goggle Yellow dari Goggle V, serial kuno Jepang kesukaan Sube. Pertemuan demi pertemuan dengan Haru mau tidak mau membuat Rayyi jatuh cinta pada gadis itu. Hanya Haru dan Samuel Hardi yang mengerti betapa Rayyi menyukai dunia dokumenter sementara sang ayah terus memaksanya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang produser yang menghasilkan banyak uang.

Ketika Rayyi dan Haru semakin dekat tiba-tiba Haru harus kembali ke Jepang. Kepergiannya yang tergesa-gesa juga membuat Rayyi memutuskan keputusan besar dalam hidupnya. Terus kuliah dan menjadi penerus sang ayah atau berhenti kuliah dan menjadi murid magang di studio Samuel Hardi. Keduanya menjadi hal yang berat. Namun Haru lagi-lagi yakin kalau Rayyi bisa mengambil keputusan yang tepat. Setahun setelah kepergian Haru tiba-tiba sepucuk surat datang dari Tokyo, Kurcaci Nippon itu mengundang Rayyi untuk datang ke Jepang dan bersama-sama menyaksikan sakura mekar. Sakura yang menjadi awal pertemuan mereka.

My Thought

Sejujurnya saya tak pernah tertarik membaca kisah Rayyi. Bahkan ketika masih di Halmahera dan melihat buku ini terpajang di deretan novel Indonesia di Gramedia Ternate, saya tak pernah tertarik membacanya meski saya membaca dan memiliki semua buku mbak Windry. Dan ketika berada di Medan, saya meminjam buku ini dari Ertalin @ Fiction & Me saya malah menimbunnya di lemari buku dan ketika buku itu dikembalikan saya masih tak juga membacanya.

Rasa penasaran saya akan sosok Rayyi muncul ketika saya membaca Last Forever, cerita tentang Samuel Hardi dan Lana. Rayyi muncul disana menjadi “perusuh”. Merusuhi benak saya untuk membaca cerita tentangnya. Dan… rasa penasaran itu membuat saya menjelajahi tiga toko buku Gramedia untuk mencari buku ini. Sudah bisa diduga kalau saya jatuh cinta pada sosok Rayyi.

Seperti biasa, mbak Windry jago meramu kata menjadi kalimat yang menghasilkan perasaan gregetan, geli, dan mengharu biru. Kekuatan Mbak Windry selain dari segi cerita adalah caranya menggabungkan satu kata dengan lain. Tidak begitu berbunga-bunga tapi juga tidak kaku. Meski penyebab Haru pergi meninggalkan Indonesia itu terdengar klise, tapi cerita setelah itu yang membuat penyebab tersebut menjadi termaafkan. Saya suka pada surat Haru pada Rayyi dan juga email-email diantara mereka. Jauh lebih keren email mereka dibandingkan email Mr. Christian Grey dan Anna yang super membosankan.



No comments:

Post a comment

Terima kasih telah berkomentar. Komentar sengaja dimoderasi untuk menghindari spam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...